Berdiri tahun 2018 silam, Heeh Jek berusaha bertahan di tengah gempuran ojek daring multinasional. Tarif murah diklaim jadi senjata untuk tetap eksis dan bahkan ekspansi ke luar Kota Angin.
Direktur PT Armada Sarana Sejahtera Gogot Setyono mengungkapkan, kelahiran Heeh Jek tak terlepas dari peluang bisnis yang dilihat Gogot dan koleganya. Meski pada 2017 silam Grab Bike sudah masuk ke Nganjuk, tetapi mereka baru melayani antar-jemput penumpang. “Belum ada layanan pembelian kuliner,” ujar Gogot.
Peluang itu yang akhirnya diambil. Heeh Jek menawarkan fitur kuliner dengan nama Njajan. Fitur ini jadi salah satu pendongkrak. Sejak kemunculannya, total ada 300 lebih mitra kuliner yang bergabung. User yang memesan makanan pun lebih banyak dibanding pengguna ojeknya.
Seiring berjalannya waktu, total ada 40 ribu user. Dari jumlah tersebut, pengguna aktif hanya berkisar antara 12 hingga 15 persennya. Dengan pertumbuhan tersebut, Heeh Jek mampu menggandeng mitra driver hingga lebih 140 orang. Hampir semuanya berdomisili di Kota Angin.
Perputaran uang dalam setiap bulannya bahkan mencapai angka yang cukup fantastis. Yakni berkisar antara Rp 500 hingga 800 juta per bulan. Namun, hitungan itu tercatat pada masa sebelum adanya pandemi Covid-19. Setelah badai korona menerjang, omzet langsung turun drastis. “Sangat terasa di kami. Penurunannya sampai 40-60 persen,” sambung Harun Ishaq, 42, Komisaris Utama PT Armada Sarana Sejahtera.
Pandemi, diakui Harun langsung mengubah pasar mereka. Pasalnya, ada beberapa mitra kuliner yang juga membuat layanan delivery order sendiri. Sehingga, pendapatan dari sektor ini juga sedikit-banyak menjadi berkurang.
Padahal, Heeh Jek mengklaim elah menawarkan harga yang lebih terjangkau dari kompetitornya. Untuk mitra kuliner, mereka hanya melebihkan seribu rupiah dari harga jual makanan. Itu pun ongkos kirimnya juga masih lebih murah dari ojek daring lainnya.
Hal itu juga berlaku bagi tarif dasar ojek yang dipatok Heeh Jek. Yakni untuk 3 kilometer pertama hanya dibanderol Rp 7 ribu. Lalu untuk kilometer selanjutnya Rp 1.800. “Gitu lho masih banyak yang memilih ojek kompetitor. Mungkin gengsi ya,” kelakar Harun.
Meski dalam kondisi yang serbasulit, menurut Harun pihaknya tetap optimistis bertumbuh. Bahkan, bulan lalu mereka melakukan pengembangan ke Kota Kediri. Ke depan, mereka juga akan memperluas wilayah ke Kabupaten Kediri dan beberapa daerah lainnya di sekitar Nganjuk.
Jika semula berskala lokal, Harun ingin memperluas usahanya ke skala regional. “Kami punya kelebihan dengan tarif yang murah, biaya keanggotaan mitra juga murah. Optimis bisa berkembang,” imbuh Harun.
Editor : adi nugroho