Sempat jadi transportasi andalan di era 1990-an ke bawah, nasib mobil penumpang umum (MPU) sekarang memprihatinkan. Penambahan volume kendaraan pribadi membuat angkutan terpinggirkan. Jumlah terminal dan trayek pun terus menyusut.
Data yang dihimpun Jawa Pos Radar Nganjuk menyebutkan, di awal tahun 2.000 masih ada delapan trayek di Kota Angin. Yakni, trayek Tanjunganom-Nganjuk, Tanjunganom-Kertosono, Kertosono-Lengkong. Kemudian, Nganjuk-Gondang dan trayek Kertosono-Lengkong dengan jalur yang berbeda.
Ada pula trayek . Yaitu, Nganjuk-Sudimoroharjo, Nganjuk Kertosono dan Nganjuk Sawahan. Dari delapan trayek tersebut, saat ini tinggal trayek Nganjuk-Sawahan saja yang masih aktif. “Ada dua trayek, Nganjuk-Sudimoroharjo dan Nganjuk-Kertosono itu hidup segan mati tak mau. Lima trayek lain sudah mati,” ujar Sekretaris Dinas Perhubungan Nganjuk Sujito.
Tidak hanya trayek saja yang mati. Tahun 2017 lalu masih ada empat terminal MPU yang masih aktif. Yaitu, Sawahan, Berbek, Warujayeng, dan Nganjuk. Adapun tahun ini tinggal terminal tipe C yang aktif tinggal Sawahan dan Berbek saja.
Tidak aktifnya terminal itu menurut Sujito bukan karena penutupan sepihak dari dinas perhubungan. Melainkan karena memang tidak ada penumpangnya. Sujito menyebut, matinya terminal terjadi secara bertahap.
Dia mencontohkan terminal Berbek dan Warujayeng yang semula masih bertahan, akhirnya tumbang juga pada 2020 lalu. “Bangunan fisik (terminal yang mati, Red) masih ada. Tapi memang kurang terawat,” terang Sujito.
Terkait penyebab matinya MPU, menurut pria berkacamata itu ada beberapa sebab. Terutama, akibat banyaknya kendaraan pribadi. Baik kendaraan roda empat maupun roda dua.
Eksistensi angkutan umum menurut Sujito semakin terancam dengan adanya ojek daring. “MPU semakin tidak diminati oleh masyarakat umum,” bebernya.
Pengguna MPU saat ini menurut Sujito mayoritas adalah pedagang yang harus membawa banyak barang ke pasar. Selebihnya, hanya sebagian kecil masyarakat saja yang masih menggunakan MPU.
Apa upaya dishub untuk membangkitkan MPU? Sujito menyebutkan, khusus untuk trayek Nganjuk-Sawahan, ke depan akan dikontrak khusus. Mereka akan dijadikan angkutan sekolah. “Itu salah satu upaya agar MPU tidak mati. Masalahnya, sekarang masih pandemi dan anak-anak sekolah libur,” tuturnya.
Setelah sekolah tatap muka aktif kembali, Sujito memastikan trayek yang paling ramai itu akan semakin hidup. Sebab, banyak anak sekolah yang selama ini memanfaatkan angkutan tersebut. “Selama lebaran juga masih beroperasi. Tetapi hanya empat MPU saja,” tandasnya.
Editor : adi nugroho