Sempat vakum tahun 2020 lalu, jasa penukaran uang baru dadakan kembali bermunculan di Jl Supriyadi. Keberadaan mereka tak lepas dari budaya pemberian uang baru di masyarakat saat lebaran.
HABIBAH A. MUKTIARA, NGANJUK. JP Radar Nganjuk
Belasan orang penyedia jasa penukaran uang, membuka lapak di utara dan depan Alun-Alun Nganjuk kemarin. Memasang banner besar bertuliskan jasa penukaran uang di masing-masing motor yang diparkir di sana, pemilik uang baru memilih duduk di dekat motor. Beralas tikar atau karpet seadanya.
Dari belasan penyedia jasa penukaran uang yang membuka lapak di Jl Supriyadi itu, hanya sebagian kecil yang memajang uang baru milik mereka. Beberapa contoh uang pecahan Rp 2 ribu, Rp 5 ribu, Rp 10 ribu, hingga Rp 20 ribu ditata rapi. Selebihnya, disimpan di tas ransel.
Seolah kompak, laki-laki dan perempuan yang membuka layanan penukaran itu menggendong tas ransel di depan. “Ini (menyimpan uang di tas ransel, Red) biar aman,” ujar Ida Kusuma, salah satu penyedia jasa penukaran uang baru.
Perempuan asal Kelurahan Kauman, Nganjuk itu sudah membuka lapak sejak pukul 08.00. Tepat setelah dirinya selesai menutup kios sembakonya di Pasar Wage. Seperti belasan tempat penukaran uang yang ada di Jl Supriyadi, perempuan berkaus abu-abu itu mengaku melayani penukaran uang tiap jelang Idul Fitri.
Selama hampir 10 tahun terakhir, dia hanya absen tahun lalu. Pandemi Covid-19 membuat jasa penukaran uang tutup. Apalagi, sekitar alun-alun juga dilarang digunakan untuk berjualan.
Meski tahun ini pelayanan penukaran uang dibuka lagi, perempuan yang akrab disapa Ida itu menyebut omzetnya tidaklah besar. Dalam sehari, biasanya dia hanya bisa mendapat omzet Rp 500 ribu. Sering kali di bawah jumlah tersebut. “Tidak ada yang menukar sama sekali dalam sehari juga pernah,” akunya.
Dari setiap penukaran uang Rp 100 ribu, Ida mendapat biaya jasa Rp 10 ribu. Karenanya, jika ada orang yang menukar Rp 500 ribu, dia bisa mendapat penghasilan Rp 50 ribu. Hasil yang lebih kecil akan didapat jika omzetnya di bawah jumlah tersebut.
Diakui Ida, penukaran uang baru tahun ini masih lesu. Jauh dibanding penukaran uang pada 2019 lalu dan sebelumnya. “Sepertinya masih terdampak korona,” tuturnya.
Hal serupa diakui oleh Iswadi, 40, penukar uang lainnya. Pria asal Ngluyu itu maksimal hanya bisa mengumpulkan omzet Rp 1 juta. Meski masih jauh lebih banyak dibanding omzet Ida, menurutnya jumlah itu turun separo dibanding sebelum pandemi.
Dia mencontohkan pada 2019 lalu bisa meraih omzet hingga Rp 2 juta dalam sehari. “Sekarang sepi. Mungkin karena tidak ada mudik, jadi uangnya ditransfer,” duganya.
Sementara itu, dengan penghasilan yang tak seberapa, para penyedia jasa penukaran uang baru itu harus menghadapi risiko yang tak kecil. Di antaranya risiko pencurian.
Karenanya, meski banyak penyedia penukaran uang, hanya beberapa saya yang men-display uang mereka. Itu pun hanya nominal kecil. Seperti yang dilakukan Ida. Selama membuka lapak, pandangannya diupayakan tak beralih dari uang di depannya. Sebab, banyak orang yang berlalu lalang.
Jika dia harus beraktivitas di tempat terpisah, Ida akan langsung memasukkan semua uangnya ke dalam ransel. “Masuk ke kamar mandi juga saya bawa. Biar aman,” urainya menunjukkan ransel berwarna merah tempatnya menyimpan uang.
Saking terbiasa membawa uang kemana-mana, suatu kali Ida pernah menjatuhkan tas ranselnya di kamar mandi. Sempat panik karena khawatir uang barunya basah dan tak diminati masyarakat, dia bisa bernapas lega. “Ternyata yang basah hanya bagian luarnya saja. Yang bagian dalam aman,” kenangnya.
Editor : adi nugroho