Ada pemandangan berbeda di dua sisi Sungai Brantas. Terutama di akhir pekan. Bila di sisi Timur, Taman Brantas, tak ada pengunjung karena masih ditutup, tidak demikian dengan di sisi Barat. Di bagian itu deretan warung-warung selalu ramai pengunjung. Sebagian juga memanfaatkan bantaran sungai untuk menggelar lesehan.
“Setiap hari ramai, apalagi akhir pekan,” kata Joko, pedagang sate jamur dan sate tahu yang menggunakan gerobak untuk berdagang ini.
Jika akhir pekan, kawasan di sepanjang Jalan Inspeksi Brantas tersebut sudah mulai ramai sejak pukul 06.00 WIB. Banyak orang yang melakukan olahraga pagi. Namun, para pedagang biasanya mulai menggelar dagangan pada pukul 08.00. Walaupun ada yang menggelar dagangannya lebih pagi.
“Saya buka dari pukul 07.00,” kata Sayem, penjual kerupuk pecel.
Perempuan 36 tahun ini sudah lama berjualan di wilayah yang dikenal dengan warung dermaga itu. Meskipun jualannya hanya kerupuk pecel dan nasi pecel, setiap akhir pekan selalu laris. Sabtu dan Minggu dia bisa untung Rp 100 ribu.
Tepi barat Sungai Brantas ini memang dikenal sebagai lokasi kongkow bagi warga, terutama anak muda. Selain deretan warung dengan harga yang ekonomis, pemandangan sore hari juga bagus. Berlatar Sungai Brantas dan juga Jembatan Brawijaya. Banyaknya tempat yang menjadi spot foto juga membuat tempat ini menjadi favorit.
“Lebih murah di sini, makanannya juga macam-macam,” aku Anisa Rahmadani, remaja asal Kelurahan Balowerti, Kecamatan Kota Kediri.
Siang itu Anisa datang bersama teman-temannya. Mereka menggelar karpet dan duduk di tepi sungai. Menurut remaja berusia 17 tahun, kumpul-kumpul di tempat itu sangat menyenangkan.
“Selama sekolah di rumah uang jajan dikurangi. Jadi kalau mau jajan harus hemat,” imbuhnya.
Selain karena harga makanan yang murah, ia ingin mengganti suasana dengan makan di pinggir sungai. Hanya saja dengan kondisi musim hujan ini sedikit menyulitkan. Bila hujan turun tentu saja mereka harus pergi.
Sementara itu, pihak satuan polisi pamong praja (satpol PP) tetap mengawasi kawasan yang jadi jujugan penyuka kuliner tersebut. Terutama terkait kepatuhan pada protokol kesehatan (prokes).
“Semua pengunjung dan penjual harus mematuhi protokol kesehatan,” tegas Sekretaris Satpol PP Nur Khamid saat dikonfirmasi kemarin.
Selama ini kawasan tersebut memiliki jam buka khusus. Mulai buka pukul 06.00 dan harus tutup pukul 18.00. Setelah itu semua aktivitas perdagangan harus tutup.
“Kondisi jalan di daerah itu masih gelap, jadi kalau buka rawan terjadi hal-hal negatif,” urainya.
Saat pandemi seperti sekarang ini aturan lebih diperketat. Selain jam buka, satpol juga memperketat pengawasan. Yaitu dengan mewajibkan semua pedagang dan pengunjung menerapkan 5M. (ara/fud)
Editor : adi nugroho