PURWOASRI, JP Radar Kediri – Angin puting beliung di beberapa desa Kecamatan Purwoasri menyisakan duka. Adalah Sutiyani, 70, yang menjadi korban bencana akhirnya meninggal. Itu setelah warga Desa Muneng, Purwoasri ini sempat dirawat dua hari di rumah sakit.
Sekretaris Desa (Sekdes) Muneng Ibnu Hanif mengatakan, Sutiyani meninggal saat dirawat di Rumah Sakit Kabupaten Kediri (RSKK) sekitar pukul 18.30, Kamis lalu (4/3). “Sehabis Maghrib saya dapat kabar beliau meninggal,” ucap Sekdes Muneng berusia 30 tahun ini.
Ketika puting beliung, Sutiyani berada di dapur. Sedangkan Kasimin, 71, suaminya, di ruang tamu. Tiba-tiba tembok dan atap rumahnya ambruk. Pecahan tembok dan genting menimpa dirinya. “Suaminya aman karena yang runtuh hanya tembok belakang,” tambah Ibnu.
Mendengar suara gemuruh dari arah belakang, Kasimin langsung mengecek. Dia melihat istrinya sudah tergeletak. Tak lama pertolongan datang. Beberapa warga menggunakan mobil siaga desa langsung membawanya ke RSKK.
Sutiyani luka di kepala. Menurut Ibnu, lukanya tidak begitu parah. Namun, fisik nenek usia 70 tahun tersebut tidak begitu kuat. Walaupun sempat membaik di awal kejadian, kondisinya berubah makin parah. “Sepertinya dia terluka dalam,” tutur Ibnu saat ditemui di Kantor Desa Muneng.
Seperti Jawa Pos Radar Kediri, angin puting beliung terjadi Selasa (2/3) sekitar pukul 16.00. Angin kencang disertai hujan deras. Angin menyapu tiga desa di Purwoasri. Yakni Desa Dayu, Muneng, dan Merjoyo.
Totalnya ada 60 rumah yang rusak. Rinciannya, di Desa Muneng sebanyak 9 rumah, Merjoyo 50 rumah, dan Dayu satu rumah. (c4/ndr)
Editor : adi nugroho