KOTA, JP Radar Kediri - Kasus pupuk cair palsu yang diungkap Polres Kota Kediri menjadi perhatian Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Kediri. Beberapa upaya dilakukan untuk melindungi petani di Kota Tahu adalah memanfaatkan hewan renik dan menggunakan pupuk kompos.
Kepala DKPP M. Ridwan mengatakan pengawasan pupuk dilakukan melalui komisi pengawasan. Pemantauan itu dilakukan dari masa tanam awal. Sasarannya adalah pengecekan ke distribusi dan kios penyalur pupuk.
“Sejauh ini belum ada info permasalahan pupuk di tingkat petani,” katanya. Pemantauan itu tidak sekadar mengawasi masuknya pupuk palsu tetapi juga mengantisipasi terjadinya permainan harga hingga tersendatnya distribusi pupuk kepada petani.
Ketika terjadi kelangkaan, DKPP melalui komisi pengawasan meminta petani tidak tergiur dengan produk pupuk yang murah namun tidak jelas manfaatnya. Sampai saat ini, petani di Kota Kediri terus didorong untuk memanfaatkan pupuk organik (kompos, Red). Bahkan, saat ini DKPP juga sedang melakukan kajian terhadap pemanfaatan limbah rumah potong hewan (RPH) sebagai alternatif pupuk organik dan pupuk organik cair.
Untuk antisipasi serangan hama, DKPP juga mulai memanfaatkan agen hayati. Yakni, sejenis hewan renik sebagai 'pestisida alami'. “Ini cara kita memanfaatkan musuh alami serangga pengganggu tanaman,” beber Ridwan. Dia bersyukur, respon petani terkait pemanfaatan agen hayati ini sangat baik.
Hal itu dibenarkan oleh Suwaji, 40, asal Kelurahan Dermo, Kecamatan Mojoroto, selama ini petani lebih suka menggunakan pupuk organik untuk menanam padi. Alasan memilih pupuk organik itu untuk menghindari mahalnya harga dan kelangkaan.
“Pupuk saat ini bisa sampai Rp 200 ribu sedangkan yang organik lebih murah,” ucapnya kepada Jawa Pos Radar Kediri.
Dia mengklaim kendala petani di tempatnya saat ini adalah kesulitan pupuk. Padahal, rata-rata petani saat ini masih membutuhkan satu kali lagi pemupukan. Normalnya, petani btuh satu kali lagi pemupukan.(rq/fud)
Editor : adi nugroho