Delapan puluh persen penduduk Kabupaten Kediri adalah petani. Kesejahteraan mereka harus diperhatikan. Hal itu yang menjadi perhatian besar Bupati Kediri Dhito Pramana.
Mayoritas warga Kabupaten Kediri adalah petani. Hal itu dipahami benar oleh Bupati Hanindhito Himawan Pramana. Karena itu, program-program yang disiapkan untuk Kabupaten Kediri juga berhubungan dengan petani.
“Delapan puluh persen penduduk di Kabupaten Kediri ini adalah petani. Jadi, kesejahteraan petani harus diperhatikan,” ujar Dhito.
Menurut bupati termuda ini, persoalan petani yang paling utama adalah masalah pupuk. Masalah ini membuat petani selalu kelimpungan saat membutuhkan pupuk. Harga pupuk mahal dan langka. Hal ini ditengarai karena adanya mafia pupuk yang bergentayangan.
“Mafia pupuk ini yang harus diberantas,” tandasnya.
Selain memberantas mafia pupuk, Dhito juga menyiapkan program Desa Inovasi Tani Organik (DITO). Program ini untuk membantu petani membuat pupuk organik. Petani diberi pelatihan dan didampingi dalam membuat pupuk organik. “Jika bisa membuat pupuk organik maka petani tidak akan tergantung lagi dengan subsidi pupuk,” ujar Dhito yang kini akrab disapa Mas Bup.
Klik link ini untuk menonton video Wawancara Eksklusif Radar Kediri TV dengan Mas Bupati Dhito Pramana
Penggunaan pupuk organik ini juga bermanfaat untuk mengurangi pencemaran lingkungan dan meningkatkan kualitas lahan secara berkelanjutan. Harga tanaman organik juga lebih mahal. Sehingga, bisa meningkatkan kesejahteraan petani. Karena itu Dhito mengajak petani untuk menggunakan pupuk organik. Tidak hanya petani, masyarakat Kabupaten Kediri juga diajak menanam sayuran organik di pekarangan rumahnya. Sayuran organik itu bisa untuk memenuhi gizi keluarganya sendiri dan bisa dijual untuk membantu perekonomian keluarga atau yang lebih dikenal dengan Rumah Pangan Lestari (RPL).
“Bisa menanam di pekarangan rumah atau pot jika tidak punya lahan,” ujarnya.
Dhito mendukung Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) harus menjamur di Kabupaten Kediri. Persoalan lahan yang semakin sempit bisa diatasi dengan program tersebut. Apalagi, Kabupaten Kediri sendiri tercatat sebagai penghasil cabai terbesar di Jawa Timur. “Satu tahun itu Kabupaten Kediri menghasilkan 180 juta ton cabai,” ujarnya.
Sayang, petani cabai di Kabupaten Kediri masih menggunakan pupuk kimia. Sehingga, harga cabai petani tidak bisa mahal. Padahal, jika menggunakan pupuk organik maka harga cabai organik bisa lebih mahal. Otomatis, kesejahteraan petani cabai akan meningkat.
“Program DITO ini bertujuan meningkatkan perekonomian dan kesejahteraan petani,” pungkasnya. (tyo/baz/fud)
Editor : adi nugroho