Hari ini, jika tidak ada aral, Hanindhito Himawan Pramana dan Dewi Mariya Ulfa resmi menjadi bupati dan wakil bupati Kediri. Masuk zona kuning dan membenahi kondisi jalanan yang rusak menjadi prioritas. Selain, tentu saja, mewujudkan janji-janji kampanyenya.
Meskipun sudah menjadi bupati Kediri, Dhito ingin panggilannya tetap sederhana. “Cukup Mas Bup saja,” ujar putra Menteri Sekretaris Kabinet Pramono Anung Wibowo ini, mengomentari apa sapaannya nanti.
Alasannya, bagi Dhito panggilan Mas Bup lebih pas. Apalagi dia adalah bupati termuda saat ini. Usianya tepat 28 tahun 6 bulan 26 hari.
Dhito lahir pada 31 Juli 1992. Saingan terdekat Dhito adalah Bupati Tuban Aditya Halindra Faridzky yang lahir pada 15 April 1992. “Saya masih muda. Sedangkan pejabat di lingkungan pemkab banyak yang berusia 50 tahunan,” ungkapnya.
Selain lebih sreg dipanggi Mas Bup, hubungan antara bupati dengan kepala satuan kerja (satker) dan masyarakat bisa lebih cair. Ini merupakan salah satu perubahan yang ingin dibawa Dhito ke Kabupaten Kediri.
“Pola komunikasi yang baik antara masyarakat dengan kepala daerah dan kepala satker ini akan membawa perubahan yang lebih di masyarakat. Karena apa yang dibutuhkan masyarakat bisa diketahui,” ujarnya.
Untuk itulah program Ngobrol Persoalan dan Solusi (Ngopi) langsung dikonkretkan. Fungsinya untuk menampung keluhan masyarakat. Kemudian memberi solusi. Program ini sudah dimulai pasangan ini ketika kampanye lalu.
Dhito menyiapkan aplikasi ‘Hallo Mas Bup’ untuk menyukseskan program 100 hari menjabat sebagai Bupati Kediri. Dengan aplikasi ‘Hallo Mas Bup’, keinginan Dhito untuk menurunkan zona oranye ke kuning bisa segera terwujud. Warga yang terkena Covid-19 bisa melaporkan ke ‘Hallo Mas Bup’ lewat WA atau SMS. Kemudian, langsung diteruskan ke satker yang berwenang. Lalu, langsung ditindaklanjuti dengan melakukan penanganan mulai dari pengobatan hingga tracing untuk mencegah penularan Covid-19. “Banyak indikator untuk penentuan zona Covid-19 mulai dari angka kesembuhan, jumlah penderita, hingga ketersediaan dokter spesialis paru,” ujarnya.
Klik link ini untuk video Wawancara Eksklusif Radar Kediri TV dengan Bupati Kediri Dhito Pramana
Selain itu, Dhito juga akan melakukan pengadaan GeNose karya Universitas Gadjah Mada (UGM). Rencananya, GeNose yang merupakan Alat untuk mendeteksi virus korona melalui embusan napas akan disiapkan di puskesmas-puskesmas, khususnya puskesmas di wilayah terluar di Kabupaten Kediri. Setiap ada warga luar Kabupaten Kediri yang masuk ke Kabupaten Kediri wajib dites dengan GeNose. Jika positif Covid-19 maka akan dikarantina di daerah asalnya. Sedangkan, untuk warga Kabupaten Kediri yang masuk ke Kabupaten Kediri dan positif korona akan mendapat perawatan dan karantina di Kabupaten Kediri.
“Semoga dengan kerja keras dan semua mematuhi protokol kesehatan Kabupaten Kediri bisa turun ke zona kuning,” harapnya.
Lalu mengapa tidak langsung zona hijau? Dhito mengatakan, dia sangat ingin Kabupaten Kediri bisa segera ke zona hijau. Namun, untuk bisa ke zona hijau maka akan ada peraturan-peraturan yang sangat ketat untuk pembatasan aktivitas di masyarakat. Ini akan sangat berpengaruh pada perekonomian masyarakat Kabupaten Kediri.
“Agar perekonomian masyarakat tetap hidup maka zona kuning saja dulu,” pungkasnya. (tyo/baz/fud)
Editor : adi nugroho