Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Lima Arca ‘Dorok’ di Puncu Merujuk ke Periode Majapahit

adi nugroho • Selasa, 19 Januari 2021 | 22:26 WIB
lima-arca-dorok-di-puncu-merujuk-ke-periode-majapahit
lima-arca-dorok-di-puncu-merujuk-ke-periode-majapahit


KABUPATEN, JP Radar Kediri-  Lima arca yang ditemukan di Dusun Dorok, Desa Manggis, Kecamatan Puncu diperkirakan berasal dari era Majapahit. Perkiraan itu didasarkan pada ikonografi pada arca. 


Terkait ikonografi itu, latar belakang arca adalah agama Hindu. Baik berdasarkan pakaian maupun atribut yang disandangkan pada arca tersebut. Meskipun, jika dilihat lebih teliti masing-masing arca dianggap keluar dari pakem.


Kesimpulan awal tersebut diperoleh dari identifikasi tim Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jatim kemarin. Selama ini ada beberapa jenis arca. Yang ditemukan di Dusun Dorok diidentifikasi sebagai perwujudan dewa. 


Kasub Unit Penyelamatan dan Pengamanan BPCB Jatim Nonuk Kristiana mencontohkan, bila ada raja yang beragama Siwa meninggal maka akan diwujudkan dalam bentuk arca Siwa.


“Begitu juga (bila) ada seorang tokoh dalam suatu karesian (resi, Red) saat meninggal, kemudian murid-muridnya ingin resi tersebut bisa melindungi mereka. Biasanya mereka membuat arca yang diwujudkan dalam bentuk Siwa,” jelasnya.


Kesimpulan juga diperoleh dari ikonografi sikap berdiri yang tidak proporsional. Karena itu Nonuk yakin arca itu bukan arca dewa. “Arca yang kami identifikasi ini dari sisi atribut tidak lengkap. Kemudian satu arca ada yang punya kumis dan sisi lokal menonjol. Kemudian secara ukuran, tinggi badan ada yang tidak proporsional,” terangnya.


Hal itu menunjukkan  si pembuat lebih menonjolkan sifat kelokalan sesuai dengan fungsi. Dari identifikasi ini, dia menyebut ada arca Agastya, Durga Mahesasura Mardini, ada tokoh resi atau seorang pendeta. Ada juga arca Ganesha di antara penemuan itu. 


Yang menarik, arca Durga yang biasanya membawa senjata di kedua tangan kali ini tidak. Itu mempertegas sifat kelolakan dari si pembuat. Juga bentuk wajah arca yang tidak seperti pada umumnya. “Jadi sisi-sisi kelokalannya tinggi,” jelasnya.


Terkait periodisasi, sementara ini arca-arca tersebut diduga berasal dari masa Majapahit. Hal itu didasarkan pada sifat kelokalan yang tinggi serta arca tidak mengikuti pakem dari gaya seni yang sesuai dengan kitab. “Ketika zaman Majapahit, arca lebih pada sarana pemujaan pribadi,” ungkapnya.


Dalam hal kualitas seni, arca-arca tersebut mengalami penurunan. Lebih kaku dan statis. Tidak seperti arca masa Kediri atau Singosari yang memiliki nilai seni tinggi. 


Jika dibandingkan dengan arca-arca masa Kediri, Nonuk menilai lebih memiliki kualitas. Baik dari segi bahan, pahatan, maupun ikonografi. “Karena arca dari masa ini lebih ke menonjolkan kualitas seninya. Karena mereka masih mengikuti pakem-pakem sesuai dengan kitab-kitab di India,” paparnya. 


Dari hasil tinjauan ini, pihak BPCB sudah melakukan koordinasi dengan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Kediri dan juga pemerintah desa setempat. Mereka menyarankan agar arca disimpan di museum milik Pemkab Kediri. Hal itu demi menjaga keamanan dan perawatan benda purbakala tersebut. (din/fud)


Editor : adi nugroho
#radar kediri #arca #puncu #sejarah