Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Tanaman Cabai Rusak Diserang Sakit Kuning

adi nugroho • Selasa, 29 Desember 2020 | 23:46 WIB
tanaman-cabai-rusak-diserang-sakit-kuning
tanaman-cabai-rusak-diserang-sakit-kuning

KABUPATEN, JP Radar Kediri- Para petani cabai merana. Cuaca ekstrem yang terjadi saat ini memicu munculnya hama dan penyakit. Salah satunya adalah penyakit kuning.


Seperti diungkapkan Komari, 50, warga Desa Adan-Adan, Kecamatan Gurah. Petani cabai rawit ini harus menanggung kerugian besar setelah tanamannya terserang virus Gemini yang menyebabkan penyakit kuning.


Komari memiliki luas lahan 150 ru. Berada di Desa Sukoharjo, Kecamatan Kayen Kidul. Dari luasan tersebut, sebanyak 90 persen terserang virus kuning. Padahal, dua bulan lagi dia sudah bisa panen. “Sekarang masih 5 bulan. Tapi sudah kena (penyakit),” keluhnya. Karena sudah menyerang sebagian besar lahannya, Komari memilih membiarkan saja tanamannya dan tidak melakukan apa-apa. “Dibiarkan saja. Ndak tak (tidak saya) semprot pestisida, Mas,” terangnya. Dia mengaku tidak tahu cara untuk mengobati tanaman cabai miliknya itu.


Adanya serangan luas virus kuning pada cabai dibenarkan oleh Riyono Yekti Wibowo, koordinator Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT). Virus ini membuat daun cabai mengecil dan berwarna kuning terang. “Luasannya mencapai 1,13 hektare lahan cabai,”  jelas Bowo-dia biasa dipanggil. Lokasinya adalah sentra tanaman cabai yang berada di Puncu, Kepung, Pagu, dan Gurah.


Bowo menjelaskan penyebab penyakit ini muncul karena virus Gemini yang bawa oleh kutu kebul. Hewan dengan nama latin Bemisia tabaci menyebabkan penyakit yang ditandai dengan daun berwarna kekuningan.


Biasanya ditandai dengan pucuk daun mengerut dan berwarna kekuningan. Berlanjut dengan seluruh daun muda berwarna kuning cerah. Supaya tidak terjadi lagi, Bowo menyarankan petani untuk telaten memeriksa tanaman cabai.


Bowo menerangkan kutu kebul cepat berkembang biak apabila cuaca panas dengan kelembapan tinggi. Apabila cuaca mendung dan hujan. Maka pertumbuhannya akan melambat.


“Kalau ada tanaman yang terindikasi terkena penyakit kuning, sebaiknya langsung cabut saja. Agar tidak menular ke yang lain. Kan lebih baik mateni telu nylametne sewu,” tambah Bowo saat ditemui di rumahnya.


Bowo memprediksi bahwa serangan virus kuning mencapai puncaknya pada Bulan Januari hingga Februari. Kejadian ini pernah berlangsung dua tahun lalu. Saat itu penyakit virus kuning menjangkiti 356,5 hektare di tahun 2019 dan 318 hektare pada 2020. Ini sesuai dengan tanaman cabai yang sudah mulai dewasa dan menyebar terutama di daerah sentra komoditas cabai seperti Kepung, Puncu, Pagu, dan Kayen Kidul.


Kutu kebul sebenarnya berasal dari cabai besar yang bisa menular ke tanaman cabai lainnya. Apabila cabai besar sudah terinfeksi virus maka dipastikan akan gagal panen. Sementara untuk cabai rawit jika sudah terinfeksi masih dapat menghasilkan buah. Tetapi hasilnya tidak akan optimal.


Cara lain yang ia sarankan adalah melakukan penyemprotan pestisida saat sore hari. Saat itu kutu kebul akan kembali beristirahat sehingga pembasmian hama akan optimal. Apabila dilakukan pagi atau siang hari. Maka tidak akan efektif. Hama tersebut akan beterbangan sehingga penyemprotan menjadi sia-sia.


Selain penyakit kuning, Bowo menerangkan petani juga mewaspadai potensi penyakit lainnya yang menyerang tanaman cabai. Seperti penyakit layu yang disebabkan infeksi jamur patogen Fusarium oxysporum. Penyakit yang menyerang pada musim hujan ini ditandai dengan leher batang bagian bawah membusuk dan berwarna cokelat.


Infeksi itu lalu menjalar sampai akar, kemudian ke ranting tanaman dan akhirnya daun layu. Kemudian menyebabkan tanaman cabai mati. “Untuk mengatasi penyakit layu bisa menggunakan agen hayati. Yaitu Trichoderma sp.,” ungkap Bowo. Fungi baik tersebut mampu melawan perkembangan jamur patogen Fusarium oxysporum. Cara penggunaannya adalah dengan mencampurkannya dengan kompos atau dikucurkan ke lubang tanaman.


Bowo menuturkan para petani cabai sudah banyak yang menggunakan Trichoderma sp. Mereka memang mulai menerapkan pertanian organik dan sadar penggunaan bahan kimia dapat merusak lingkungan serta membahayakan kesehatan. (c5/dea)


 


 


 


 


Dipicu karena Cuaca


Ekstrem, Petani Rugi  //


 

Editor : adi nugroho
#radarkediri