Ribuan Light Trap Berpendar, Kaper Terkapar

adi nugroho • Dipublikasikan Jumat, 30 Oktober 2020 | 19:05 WIB
ribuan-light-trap-berpendar-kaper-terkapar
ribuan-light-trap-berpendar-kaper-terkapar


Light trap atau lampu perangkap hama kian diminati oleh petani bawang merah. Jika awalnya petani menggunakan pestisida untuk membasmi kaper yang menyerang tanaman brambang, kini banyak yang beralih memakai cara ramah lingkungan ini.


Seperti yang dilakukan oleh kelompok tani di Dusun Ngreco, Desa Sukorejo, Rejoso. Total ada 50 hektare tanaman bawang merah di sana yang kompak memakai light trap. “Ada 70 petani yang semuanya memasang lampu (perangkap hama, Red),” ujar Sumanto, 46, petani setempat.


Menurut pria yang juga menjabat kepala Dusun Ngreco ini menngungkapkan, di puluhan hektare tanaman bawang itu ada 1.482 lampu yang terpasang. Para petani hanya dikenakan biaya Rp 7 ribu per lampu selama setahun.


Dibanding harga pestisida, biaya tersebut tentu jauh lebih ringan. Sebab, biasanya mereka harus merogoh hingga jutaan rupiah untuk membeli obat impor itu dalam satu kali musim tanam.


Yang membuat petani mau beralih menggunakan light trap menurut Sumanto adalah efektivitasnya dalam membunuh hama yang efektif. “Serangan hama sekarang turun drastis,” lanjutnya sambil menunjukkan kaper dan telur kaper yang terperangkap ember berisi air di bawah light trap Senin (26/10) malam.


Lebih lanjut Sumanto menjelaskan, tanaman bawang merah sudah mulai diserang hama sejak berusia 15 hari. Serangkan akan lebih banyak pada saat usia 30 hari. Saat itu, hama yang biasa disemprot pestisida akan menjadi lebih kebal.


Karenanya, saat masih memakai pestisida, dia harus menghabiskan dua liter pestisida agar hama kaper mati. Tetapi saat ini petani di Dusun Ngreco sudah tidak memakai pestisida lagi. Mereka cukup memakai lampu perangkap hama yang mampu membunuh hama hingga 70 persen. “Kalau saya masih pakai. Ini karena kebiasaan saja,” elaknya.


Saat mengecek kondisi kaper yang terperangkap hama pada Senin malam lal, Sumanto menyebut jumlahnya jauh lebih sedikit. Jika pemakaian lampu diteruskan hingga usia bawang merah tiga bulan, dia yakin populasi akan terus turun hingga habis. Sebab, tidak hanya kaper saja yang terperangkap di lampu. Melainkan juga telur kaper.


Terpisah, Kabid Hortikultura Dinas Pertanian (Dispertan) Agus Sulistyo menyebutkan, baru dua desa di Kecamatan Rejoso yang sudah diberi fasilitas listrik untuk light trap tanaman bawang. Selain  Desa Sukorejo ada juga Desa Mojorembun.


“Yang di Desa Mojorembun baru pasang 60 buah lampu, luasnya hanya dua hektare,” terangnya. Sedangan di Desa Sukorejo masih ada tambahan satu dusun lagi yang memang yakni Dusun Duwel dengan luas 0,5 hektare dengan jumlah lampu baru 18 unit lampu. Melihat hasil perangkap lampu efektif mengurangi populasi hama, Agus yakin ke depan akan banyak petani yang memasangnya.

Editor : adi nugroho
hama petani padi kabar nganjuk radar nganjuk