Salah satu bekas peninggalan peradaban di Surowono adalah keberadaan arung kuno. Terowongan air ratusan tahun yang hingga kini masih dimanfaatkan warga.
Arung Surowono jaraknya hanya 400 meter dari candi. Terowongan yang juga dikenal dengan nama Gua Surowono ini terdiri dari lima sumuran dengan enam saluran terowongan. Semuanya masih bisa dijumpai. Hanya saja, satu saluran yang diduga menjadi titik mata air. Yakni berada di sumuran pertama.
Beberapa ahli menyebut bahwa saluran 1 ini merupakan pangkal dari terowongan. Posisinya mengarah ke selatan, jika dilihat seksama, orientasinya cenderung ke arah tenggara. Pangkal dari saluran 1 ini memang belum diketemukan, sebab selama ini peneliti hanya bisa mencapai jarak 150 meter ke dalam terowongan yang melawan arus aliran air tersebut. Kondisi saat ini, saluran itu ditutup pintu besi. Itu demi keselamatan pengunjung.
Memang, terowongan Surowono masih dimanfaatkan. Selain sebagai irigasi pertanian dan pengisi tambak ikan, juga untuk sarana pariwisata.
Air yang keluar sangat jernih. Membuat bagian dasar terowongan terlihat jelas. Kedalamannya pun bervariasi, rata-rata setinggi lutut hingga pinggang orang dewasa. Sementara dari lantai hingga langit-langit gua, mulai dari 150 sentimeter hingga 200 meter. “Di dalam saluran arung ini ada beberapa cabang,” ujar Ketua Komunitas Pelestari Sejarah dan Budaya Kadhiri Novi Bahrul Munib.
Begitu seterusnya hingga ke saluran 6. Rata-rata masih terdapat saluran-saluran lain di dalamnya. Hanya saja, dari saluran satu hingga ke enam itu ketinggiannya tidak sama. Di saluran ketiga, empat jika masuk harus jongkok.
Bahkan yang lebih ekstrem lagi adalah di saluran 5 dan 6 yang harus dengan posisi tiarap jika ingin menjelajahi gua tersebut. Saluran enam itu merupakan muara dari arung ini. Kemudian menjadi weluran atau sungai yang dimanfaatkan warga.
“Di utara arung, tepatnya di wilayah Desa Krecek, diduga dahulu ada sebuah bendungan atau waduk. Itu dilihat dari topografi wilayahnya,” jelas Novi.
Dari waduk atau dawuhan itulah, air-air yang tertampung disalurkan ke persawahan warga. Keberadaan arung Surowono ini membuktikan bahwa masyarakat di sekitar Surowono sejak dulu telah berhasil mengendalikan lingkungannya untuk keberlangsungan hidup. Terutama bermanfaat bagi pengolahan lahan pertanian yakni saluran irigasi zaman dahulu. Dikaitkan dengan kehidupan di wilayah itu yang secara kontekstual diketahui pada zaman Majapahit dengan keberadaan Candi Surowono. (din/bersambung/dea)
Editor : adi nugroho