Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Di Depan Gua Kethek Itu Tertulis Pamsimas

adi nugroho • Selasa, 29 September 2020 | 00:04 WIB
di-depan-gua-kethek-itu-tertulis-pamsimas
di-depan-gua-kethek-itu-tertulis-pamsimas

Orang menyebutnya Gua Kethek. Air mengucur deras dari gua tersebut. Di sekitarnya banyak ditemukan benda purbakala. Diduga kuat sebagai arung kuno.


 


Lokasi gua ini di tengah persawahan. Jika ditarik garis lurus, jaraknya sekitar dua kilometer dari Kali Konto yang membelah Desa Karangtengah di Kecamatan Kandangan. Tepatnya ke arah selatan.


Sekitar gua ditandai dengan sejumlah pohon besar. Rata-rata pohon randu. Membuat suasana di sekitarnya terasa sejuk.


Di pintu masuk ada pura kecil. Tempat ibadah umat Hindu tersebut baru dibuat satu tahun lalu. Di depannya tertata sejumlah fragmen andesit dan bata merah.


Di bagian bawah, ada satu kolam besar. Dibendung dengan karung putih yang terisi pasir. Air kolam itu tampak terisi dari sebuah pancuran. “Airnya berasal dari dalam gua,” kata Sugeng, seorang warga sekitar.


Hanya saja gua itu tak tampak lagi. Satu tahun ini, kata Sugeng, areal Gua Kethek dibangun untuk kepentingan penyediaan air minum dan sanitasi berbasis masyarakat (pamsimas). Di sekitar gua, banyak ditemukan bata kuno berserakan. Beberapa ditata. Digunakan untuk tangga menuju kolam. Beberapa lagi masih berupa struktur.


Selain puing bata kuno, ada juga tembikar dan keramik. Ada pula fragmen arca serta kamuncak. Beberapa berbahan batu andesit.


Ada yang masih jelas motifnya. Bagus, tampak indah. Yang bermotif itu diamankan. Tertata rapi pada sebuah pura kecil. Di dekat sumber.


Sementara objek berupa arung tak bisa dilihat lagi keindahannya. Terowongan air bawah tanah itu sudah berubah. Tertutup bangunan kotak warna biru. Tulisanya Pamsimas.


Di beberapa titik di lokasi itu digunakan untuk ritual. Yakni di bawah pohon yang terkumpul pecahan benda-benda kuno itu. Ada sesajian berupa bunga. Lengkap dengan dupa. Seperti adat Hindu. Pohon-pohon besar itu diberi kain warna hitam dan putih bermotif kotak-kotak.


Masih keterangan warga Dusun Sarirejo, tak jauh dari gua ini dahulu sering ditemukan benda-benda kuno. Paling banyak adalah bata kuno. Namun karena takut, warga menimbunnya lagi.


“Pokok di sekitar sini dulu ada arca tapi pecah, hanya separo bagian saja. Terus bata kuno di sini banyak,” ungkap Lasidi, warga lainnya.


Tak hanya bata kuno, ada juga umpak dari batu andesit. Kata Lasidi, benda itu dulu dibawa pulang. Seingatnya ada empat buah umpak. “Saya buat umpak kandang,” akunya. (din/fud/bersambung)

Editor : adi nugroho
#radarkediri #kelud