Belum ada bukti tertulis yang jelas dari penemuan benda bersejarah di Desa Pagu, Wates. Padahal hampir di setiap sudut desa ini terdapat peninggalan zaman dulu.
Hampir di semua dusun di Desa Pagu memiliki potensi peninggalan bersejarah yang luar biasa. Tak hanya di Dusun Krebet, dusun di sisi timur yang banyak ditemukan benda dan struktur kuno, tapi juga di dusun-dusun lain.
Sayangnya, dari semua benda yang pernah ditemukan belum ada yang mengindikasikan adanya prasasti tertulis. Hanya ada satu goresan model Jawa kuno yang ditemukan saat ekskavasi 2012. Yakni tulisan pada sebuah balok bata.
Dari catatan buku penetapan cagar budaya Kabupaten Kediri, bata berinskripsi ini berasal dari penemuan di belakang rumah Sutomo. Tepat pada lokasi yang dilakukan ekskavasi oleh Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Trowulan yang saat ini merupakan Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur. Yakni pada 2012 lalu. Bata berinskripsi ini berupa balok bata kuno. Menariknya, pada bagian sisi balok bata itu ada kata ‘Sri”.
“Bata itu sudah ditaruh di Museum Bagawanta Bhari Kabupaten Kediri,” ujar salah satu pegawai Pemerintah Desa (Pemdes) Pagu Masfuat Zhian El Hidayatullah. Sebelumnya, bata berinskripsi itu ada di rumah Pak Tomo.
Memang, selama ini untuk memastikan periodisasi peninggalan purbakala di Desa Pagu belum ada bukti kuat pada zaman apa. Yang jelas, selain inskripsi yang ada di bata kuno tersebut, ada inskripsi lain yang pernah ditulis pada kuitansi zaman dulu yang merupakan lempengan logam. Hanya saja itu dari Desa Bogem yang menyebut adanya raja di Paguhan.
“Bisa Pagu, Gurah atau Pagu lain,” ujar pemerhati sejarah Kabupaten Kediri Novi Bahrul Munib.
Sementara menurut keterangan Kabid Sejarah dan Purbakala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Kediri Yuli Marwantoko, dalam kurun masa peninggalan artefaktual di Desa Pagu, Kecamatan Wates ini dapat dilihat temuan uang. Yakni pada masa dinasti Song. Ditemukan oleh seorang warga bernama Muksin dari Dusun Sumberurip.
“Temuan itu berada di areal persawahan Dusun Dawung,” ungkapnya.
Dinasti Song merupakan dinasti yang berkembang dari daratan Tiongkok pada 960 hingga 1279 Masehi. Dapat dilihat bahwa keberadaan Dinasti Song lahir sezaman dengan akhir Kerajaan Medang. Kemudian masa perkembangan dan keemasan dengan Kerajaan Panjalu di bhumi Kadhiri hingga sezaman dengan masa Kerajaan Tumapel. (din/fud/bersambung)
Ukuran Bata Inskripsi ‘Sri’
Panjang 40 cm
Lebar 20 cm
Tebal 8 cm
Editor : adi nugroho