Arca ini dikenal sebagai lambang dewi pelindung anak. Juga jadi media ‘meminta’ keturunan. Sayang, kini sudah tak jelas rimbanya.
Kontur tanah di genengan seluas sekitar satu hektare yang ada di Dusun Kajoran, Desa Bogem, Kecamatan Gurah sangat unik. Hampir semua area yang mayoritas jadi lahan tanaman jagung itu rata. Hanya di satu bagian yang terlihat berbukit. Lebih tinggi dari sekitarnya.
Tanah berbukit itulah yang dulu menjadi tempat bersemayam satu arca kuno. Arca itu bernama Arca Brayut.
Bagi warga sekitar, arca tersebut boleh disebut sebagai arca istimewa. Tak hanya karena merupakan benda kuno saja. Tapi bentuknya juga indah. Bahkan, oleh sebagian orang arca tersebut dianggap sakral.
“Dulu ada yang meyakini bahwa Arca Brayut ini bisa memberikan keturunan. Tapi itu dulu,” terang Kades Bogem M. Samsodin, kala berada di lokasi bekas tempat Arca Brayut berada.
Bekas? Sayangnya, memang arca tersebut saat ini sudah hilang tak tentu rimbanya. Menjadi korban ulah orang tak bertanggung jawab. Hilang diambil pencoleng. Menyisakan cerita yang keluar dari mulut ke mulut tentang Arca Brayut tersebut.
Peristiwa hilangnya arca tersebut terjadi pada 2018. Warga menduga pelakunya lebih dari satu orang. Paling sedikit tiga orang. Konon, arca tersebut dijual di pasar gelap benda-benda kuno. Dijual di daerah Bali.
“Setelah pencurian bekasnya terlihat jelas. Tanaman jagung warga di sekitar arca pada rusak,” kenang Samsodin.
Uniknya, para pencoleng itu tak hanya mengambil arca tersebut. Mereka masih sempat mengganti arca itu dengan batu biasa. Batu kali setinggi sekitar 30 centimeter itu ditempatkan persis di lokasi arca tersebut. Di bawah pohon Mojo, yang kini juga masih tetap berdiri.
Sebelum hilang, kondisi terakhir arca Brayut sudah tak utuh lagi. Patung yang terbikin dari batu andesit tersebut sudah menjadi fragmen. Bagian kepalanya sudah pecah. Pecahannya juga hilang. Hanya ada tubuh arca yang utuh setinggi satu meter. Batu yang tersisa itu masih jelas menunjukkan bagian dari arca.
Masih menurut Samsodin, pada tahun 1965 kondisi arca masih utuh. “Tapi setelah tahun itu rusak. Dipecah oleh orang gila,” terangnya.
Yang paling diingat Samsodin adalah hiasan di belakang arca yang terlihat indah. Salah satunya adalah keberadaan relief anak-anak. Relief itu menegaskan filosofi Arca Brayut yang memang terkait dengan kehidupan anak.
Mitologi Arca Brayut terkait dengan konsep kedewataan di India. Di negara yang mayoritas penduduknya beragama Hindu ini ada salah satu dewi yang bernama Dewi Kekayaan Anak atau Hariti. Kemudian, oleh masyarakat Hindu di Indonesia diadaptasi menjadi Arca Brayut.
Di Bali, arca ini juga dikenal sebagai Men Brayut. Konon, Men Brayut adalah seorang ibu yang memiliki banyak anak. Melahirkan dengan jeda waktu yang pendek. Dalam istilah Jawa disebut nrecel atau memiliki banyak anak. (din/fud)
Editor : adi nugroho