Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Pramalaya Itu Tercatat di ‘Kuitansi’ Zaman Majapahit

adi nugroho • Minggu, 30 Agustus 2020 | 20:00 WIB
pramalaya-itu-tercatat-di-kuitansi-zaman-majapahit
pramalaya-itu-tercatat-di-kuitansi-zaman-majapahit

Puthuk-puthuk di Desa Bogem diperkirakan tercatat di satu prasasti zaman Majapahit. Wujudnya berupa kuitansi jual beli tanah di masa itu.


 


Jejak peradaban kuno di Desa Bogem, Kecamatan Gurah relatif melimpah. Banyak ditemukan benda kuno, yang kini dikumpulkan di balai desa. Artefak-artefak itu sudah ditetapkan sebagai cagar budaya kabupaten.


Bukti desa ini sangat bersejarah juga bisa dilihat dari penemuan lempengan prasasti yang bernama Paguhan. Lempengan ini ditemukan saat penggalian di abad 20 lalu.


“Prasasti itu sekarang disimpan di Museum Nasional Jakarta,” jelas pemerhati sejarah Novi Bahrul Munib.


Lempengan prasasti itu terasa khas. Merupakan surat atau kuitansi jual beli tanah. Tentu saja di masa itu. Diketahui dari catatan yang tertulis di lempengan yang menerangkan pembelian tanah untuk kebutuhan ‘pemakaman’ Raja Paguhan.


Dari sejumlah sumber, prasasti itu terdiri dari tiga lempeng. Isinya berkaitan dengan situs Bogem. Tulisannya berukuran besar. Format isinya, ini yang menarik, mirip dengan format kuitansi zaman sekarang. Seperti nilai uang disebut dua kali, dengan bilangan dan angka. Juga ada paraf penerima uang.


‘Sudah terima dari para angucap gawe di Gedong Dingdiwa sejumlah uang untuk pembayaran sebidang tanah untuk kepentingan Bhatara di Paguhan yang meninggal di Pramalaya. Jumlah uang 200 ribu kepeng banyaknya. Tertanggal 13 paroterang, bulan Asuji, 1338 saka atau 4 September 1416 masehi. Tertanda : Sang Kawasa’.


Menurut Novi, pramalaya dalam catatan itu  adalah pendarmaan atau candi untuk Raja Paguhan.  “Lokasinya bisa kita ajukan ke Puthuk Bogem. Karena ditemukan jejak-jejak percandian di lokasi itu,” ungkapnya.


Memang, bukti adanya candi di puthuk sangat kuat. Masih ada struktur bata kuno. Bata besar juga banyak yang terserak. Gundukan tanah di tengah areal persawahan warga itu, kata Novi, apabila dibuka sangat mungkin dijumpai struktur bata kuno yang amat besar.


Hal itu didukung temuan benda kuno lain. Seperti yoni, arca, dan artefak-artefak penting lain. “Benda-benda kuno itu sudah masuk museum desa,” ungkapnya. (din/fud/bersambung)

Editor : adi nugroho
#radarkediri