Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Dua Jambangan di Satak Itu dari Abad 14

adi nugroho • Senin, 17 Agustus 2020 | 05:30 WIB
dua-jambangan-di-satak-itu-dari-abad-14
dua-jambangan-di-satak-itu-dari-abad-14

Bukti tekstual pada peninggalan bersejarah di lereng barat Kelud hanya berupa angka tahun. Itu yang terdapat pada dua jambangan kuno di Desa Satak.


 


Secara administratif Desa Satak masuk Kecamatan Puncu. Sebagian besar wilayah perkebunannya merupakan bagian dari PTPN XII Ngrangkah Pawon. Sebuah perusahaan perkebunan yang kantor utamanya berada di Kecamatan Plosoklaten. Tepat di lereng barat Gunung Kelud.


Di kawasan perkebunan inilah sejumlah artefak dan benda-benda bersejarah ditemukan. Rata-rata artefak itu berbahan batu andesit. Hanya saja di sini minim informasi penemuan berupa struktur bata kuno. Banyak ahli berpendapat bahwa daerah ini salah satu kawasan terdampak Gunung Kelud. Sehingga memendam bangunan bersejarah yang ada di sana.


Menuju Desa Satak tidaklah sulit. Meski lokasinya dikelilingi perkebunan namun akses ke sana bisa ditempuh dengan mudah. Jalanan sudah banyak yang beraspal. Hanya beberapa saja yang masih berupa tanah, yang menuju beberapa dusun.


Salah satunya adalah di area perkebunan Afdeling Sumber dan di Dusun Yani. Menuju lokasi ini harus melalui perkebunan produksi. Baik perkebunan milik Perhutani maupun perkebunan milik PTPN Ngrangkah Pawon.


Di dua daerah inilah sejumlah benda kuno ditemukan. Kabid Sejarah dan Purbakala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Kediri Yuli Marwantoko mengatakan bahwa di Desa Satak tercatat ada dua jambangan kuno. Bahkan keduanya memiliki inskripsi yang bertuliskan angka tahun. Salah satunya dari Afdeling Sumber. Jambangan di sini berinskripsi 1277 saka atau 1355 masehi.


“Jambangan ini sebagian besar badannya terpendam tanah,” ujar Yuli.


Hal itu membuat sulit untuk mengetahui tinggi jambangan. Yang jelas kondisi penampung air itu masih bagus. Ukurannya lebih besar dibandingkan dengan jambangan lain. Memiliki panjang 227 sentimeter dengan lebar 138 sentimeter.


Yuli menerangkan pada satu sisi badan jambangan ini terdapat dua baris inskripsi. Pada bagian atas tertulis angka tahun 1277. Sementara di baris kedua terpahat tulisan pa-ba-pa-pi-ga-ti-gi.


Kemungkinan besar benda ini berada in situ atau tak berpindah dari lokasi asalnya. Jika dilihat dari inskripsi yang tercatat itu, Yuli menyebut bahwa benda ini dibuat sezaman pada masa Kerajaan Majapahit saat dipimpin Sri Maharaja Hayam Wuruk.


“Adanya jambangan ini sangat penting mendukung adanya kebudayaan masyarakat masa lalu pada masa kerajaan bercorak Hindu-Budha di Kediri ini,” jelasnya.


Benda serupa juga dapat dijumpai di Desa Satak. Namun lokasinya masuk daerah permukiman warga. Jambangan ini berada di halaman depan salah satu padepokan pencak silat. Tak seperti jambangan di Afdeling Sumber, untuk benda kuno ini beberapa sisi sudah rusak. Juga terlihat telah mengalami penambalan.


Jambangan ini juga terdapat dua baris inskripsi di salah satu bagian badannya. Yakni tertulis 1279 saka atau 1357 masehi. Sehingga jambangan tersebut sama-sama dikeluarkan di zaman Majapahit saat dipimpin Hayam Wuruk.


Hingga kini dua jambangan tersebut masih digunakan untuk penampungan air. Namun tak seperti jambangan di Desa Babadan, Ngancar yang masih disakralkan. Yang jelas, adanya dua jambangan berinskripsi tersebut menjadi bukti bahwa ada peradaban pada abad 14 di daerah Satak. Dan menjadi bukti kuat bahwa kawasan ini merupakan bekas permukiman kuno. (din/fud/bersambung)

Editor : adi nugroho
#radarkediri #jawa