Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Makhluk Mitologi Hiasi Jambangan Kuno Babadan

adi nugroho • Minggu, 16 Agustus 2020 | 00:17 WIB
makhluk-mitologi-hiasi-jambangan-kuno-babadan
makhluk-mitologi-hiasi-jambangan-kuno-babadan

Dua jambangan kuno ini ada di Desa Babadan, Kecamatan Ngancar. Berbentuk binatang, keduanya disakralkan oleh masyarakat.


 


Salah satu artefak kuno yang ditemukan di lereng barat Kelud adalah jambangan. Benda seperti itu bisa dijumpai di beberapa lokasi. Baik di kawasan permukiman maupun di kawasan perkebunan. Salah satunya ada di Desa Babadan, Kecamatan Ngancar.


Jambangan yang ada di desa tersebut bentuknya unik. Artefak berbahan batu andesit itu berbentuk binatang.


Jambangan itu masih berada di dekat permukiman warga. Tepatnya di punden desa yang biasa disebut Punden Mbah Ageng Klenteng. Punden tersebut hingga kini masih dianggap sakral. Khususnya oleh warga Dusun Judeg.


Tempat ini bersih karena ada juru kunci yang selalu merawat dan membersihkan setiap hari. Masuk ke dalam lokasi perlu izin ke juru pelihara yang rumahnya tepat di sebelah punden.


Yang menarik dari benda di punden itu tentu saja jambangan dari batu andesit tersebut. Jumlahnya ada dua. Memiliki pahatan yang unik.


Jika dilihat sekilas tak seperti jambangan pada umumnya. Kebanyakan jambangan yang ditemukan di lereng barat Kelud ini permukaannya polos. Ada beberapa memang yang bermotif. Tapi tak sampai membentuk wujud satu makhluk.


Itu yang membedakan jambangan di Desa Babadan ini dengan jambangan lainnya. Salah satu jambangan berwujud atau penggambaran seekor ikan. Sementara jambangan yang lain berwujud makara.


“Makara atau juga disebut gajah mina,” terang pemerhati sejarah Novi Bahrul Munib. Gajah mina sering diartikan sebagai makhluk mitologi Hindu yang merupakan gabungan gajah dengan ikan.


Novi menambahkan, untuk makara atau gajah mina ini biasanya berada di bagian bangunan candi. Yakni berada pada pipi tangga masuk pada bangunan suci tersebut. Di Kediri, sebagai contoh, adalah makara di Candi Adan-Adan yang wujudnya masih terlihat jelas.


Terkait peruntukannya, Novi menyebut bahwa jambangan adalah benda yang berfungsi sebagai tempat penampungan air. “Dulu biasanya untuk upacara penyucian diri. Baik jiwa dan raga,” ungkap Ketua Komunitas PASAK Kediri ini.


Fungsi itu hingga kini juga masih dipertahankan. Warga setempat masih sering memanfaatkan punden untuk kegiatan kebudayaan. Seperti acara di bulan Suro ataupun kegiatan lain.


Rizky Widayanti, warga setempat, mengatakan bahwa mereka masih sering memanfaatkan punden desa itu untuk kegiatan selamatan. Biasa disebut upacara nyadran atau bersih desa.


“Misalkan ada yang melaksanakan resepsi pernikahan atau ketika ada warga sini yang memiliki nazar biasanya juga selamatan di punden,” ujarnya. Dan yang paling sering selamatan itu adalah pada malam suro. 


Dari informasi yang didapat, dua jambangan unik di Desa Babadan ini ditemukan oleh warga saat bermimpi dan ada amanah untuk menggali tanah. Setelah digali benar saja ditemukan benda kuno tersebut. Termasuk ada juga batu andesit berupa balok batu yang diduga merupakan sebuah bagian dari bangunan candi. (din/fud/bersambung)


 


Panjang 250 cm


Lebar 75 cm


Tinggi 100 cm

Editor : adi nugroho
#radarkediri #jawa