Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Lereng Utara Kelud, Kawasan Penting Sejarah Jawa (22)

adi nugroho • Selasa, 4 Agustus 2020 | 21:00 WIB
lereng-utara-kelud-kawasan-penting-sejarah-jawa-22
lereng-utara-kelud-kawasan-penting-sejarah-jawa-22

 Banyak peninggalan masa kerajaan Hindu-Budha di timur Kabupaten Kediri. Salah satunya artefak batu kuno berbentuk gajah.


 


Patung itu terbuat dari batu monolit. Batu yang terbentuk dari erosi yang terus-menerus selama bertahun-tahun. Wujudnya berupa gajah. Karena itu disebut arca Watu Gajah.


Arca tersebut, saat ini, berada di situs yang berada di lahan hutan milik Perhutani. Tepatnya di wilayah Resor Pemangku Hutan (RPH) Jatirejo Badan Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Pare. Area itu masuk wilayah Desa Gadungan, Kecamatan Puncu.


Watu Gajah itu boleh dibilang berada di lokasi yang ‘aman’. Lokasinya yang di tengah hutan serta harus melalui medan sulit adalah salah satu sebabnya. Untuk menuju situs ini harus terlebih dulu melewati jalanan tanah yang berbatu.


Perawatan terhadap patung ini juga relatif bagus. Diberi rumah berupa cungkup berkeliling pagar besi.


Sayang, tak banyak yang bisa dikorek dari Watu Gajah ini. Nyaris tak ada bukti-bukti otentik terkait tahun pembuatannya. Walaupun demikian sejarawan meyakini arca tersebut memiliki nilai sejarah. Yang terkait dengan peradaban yang ada kala itu.


“Tapi (patung itu) belum selesai dibuat. Karena tokoh yang menuntun gajah masih terlihat samar,” ujar Novi Barhul Munib memberi analisis.


Objek utama, berupa seekor gajah, sudah terlihat jelas. Pahatan itu menunjukkan seekor gajah besar menggandeng gajah yang ukurannya lebih kecil. “Pada sisi lain terdapat tokoh manusia atau pawang gajah yang membawa alat pengatur gajah (angkusa, Red),” terang sejarawan ini.


Berdasarkan catatannya, penemuan Watu Gajah tak lepas dari keberadaan seorang kepala kehutanan di era kolonial yang bernama Leendert Albert van de Ven Renardel de Lavalette. Dia bertugas di wilayah Pare saat zaman pemerintahan Hindia Belanda.


Suatu saat sang meneer mengendarai bendi. Bertujuan melakukan survei ke salah satu hutan yang saat ini masuk wilayah Dusun Sumberbahagian. Di tengah perjalanan, di jalan setapak di dalam hutan, bendi yang dia naiki menabrak bongkahan batu hingga rusak.


Sang meneer marah karena terganggu bongkahan batu itu. Dia kemudian menyuruh para kuli pribumi untuk menggalinya. Kemudian menepikan ke pinggir jalan. Saat dientaskan itulah wujud batu terlihat jelas.


“Batu tersebut menggambarkan seekor gajah dengan anaknya. Oleh karena hal tersebut dirasa unik maka ia memerintahkan untuk memindahkan batu tersebut di pinggir jalan,” tambahnya.


Situs ini telah masuk catatan penetapan cagar budaya Kabupaten Kediri. Karena menunjukkan kebudayaan yang berkembang di masa kerajaan Hindu-Budha. Menurutnya, meski belum diketahui secara pasti masa pembuatan dan fungsinya, keberadaan artefak batu gajah ini tetap memiliki makna penting. Dapat menunjukkan adanya domestifikasi pada gajah di Kediri. Pada masa lalu gajah digunakan sebagai sarana dalam mendukung kehidupan manusia. (din/fud/bersambung)


 


Watu Gajah di Desa Gadungan


 


Bahan         : Batu Monolit


Panjang       : 291 cm


Lebar          : 174 cm


Tinggi         : 203 cm


Deskripsi     : Menggambarkan gajah induk sedang berjalan bersama anaknya. Di dekat gajah itu ada gambaran sosok pawang.

Editor : adi nugroho
#radarkediri #jawa #sejarah