Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Lereng Utara Kelud, Kawasan Penting Sejarah Jawa (14)

adi nugroho • Senin, 27 Juli 2020 | 21:00 WIB
lereng-utara-kelud-kawasan-penting-sejarah-jawa-14
lereng-utara-kelud-kawasan-penting-sejarah-jawa-14

 Era Kerajaan Kediri kaya peninggalan sastranya. Tapi dianggap sedikit meninggalkankarya arsitektur. Penemuan-penemuan baru membantah anggapan itu.


 


Peninggalan arsitektur paling besar masa Kerajaan Kediri adalah Candi Penataran di Kabupaten Blitar. Merupakan kompleks percandian terbesar di Jawa Timur. Sementara di wilayah Kediri sangat minim data peninggalan bangunan di zaman kerajaan ini. Yang masih berdiri kukuh adalah tinggalan dari era Majapahit, yakni Candi Surowono dan Candi Tegowangi.


Sejarawan M. Dwi Cahyono mengungkapkan, Kerajaan Kediri merupakan salah satu kerajaan kuat. Berada di sebuah lembah yang dibelah Sungai Brantas. Dengan diapit dua gunung suci di Jawa. Yakni Gunung Kelud di sebelah timur dan Gunung Wilis di barat.


Selama ini, Dwi menyebut bahwa Kediri sering dianggap hanya kaya akan peninggalan sastra atau peninggalan berupa teks. Sementara untuk arsitektur bangunan sangat kecil.


“Kok ironi ya, kerajaan yang memiliki peradaban cukup panjang dan ada masa-masa keemasan tapi tidak punya peninggalan bangunan. Tapi sekarang dengan temuan-temuan di wilayah Kediri ini menjadi bukti yang mematahkan anggapan-anggapan itu,” paparnya.


Apalagi temuan terbaru di wilayah Desa Brumbung, Kecamatan Kepung yang berada di lereng utara Gunung Kelud. Dwi menyatakan bahwa apa yang ditemukan di Brumbung tersebut memperkuat bukti bahwa sub-area Timur dan Utara Kediri, memiliki potensi yang besar akan tinggalan arkeologis dan ekonografis. Selain tinggalan yang tekstual atau prasasti.


“Jadi apa yang ditemukan di Brumbung, yakni petirtaan kuno ini, bukan yang terakhir. Pasti akan menyusul temuan-temuan lain di sekitarnya. Nah dalam kaitan temuan itu, bukan pada permukaan tanah tapi masih berada di dalam tanah,” tandasnya.


Sejauh ini jejak susastra dan tekstual di Kediri sudah terbukti kaya. Jejak prasasti juga banyak. Temuan-temuan terbaru di Gurah dan Brumbung menampakkan bahwa di Kediri ternyata juga kaya tinggalan arsitektural.


Belum ditemukannya peninggalan itu ada beberapa sebab. Yaitu terkait catatan panjang letusan Kelud yang terjadi 15 sampai 25 tahun sekali.


“Jika dikaitkan dengan temuan-temuan di Kepung, Brumbung, Tondowongso, dan Adan-adan itu memberikan petunjuk bahwa memang sangat tebal material Gunung Kelud menutup peninggalan purbakala,” jelasnya.


Dia yakin masih banyak lagi bangunan yang belum ditemukan. Saat ini tempat itu masih terkubur oleh material vulkanik Kelud di kedalaman 3-5 meter di bawah permukaan tanah. (din/fud/bersambung)

Editor : adi nugroho
#radarkediri #jawa #sejarah