Air memang tak lepas dari kebutuhan hidup manusia. Sejak nenek moyang, unsur ini sangatlah penting. Sebagai media bersuci di tempat-tempat sakral.
Jika dihitung, total ada ratusan sumber air di lereng Gunung Kelud. Tak terkecuali di sebelah utara salah satu gunung yang dianggap suci di Pulau Jawa ini. Sumber air itu sangat mudah dijumpai. Setiap desa bahkan memilikinya.
Tak ayal, jika kawasan ini dikenal dengan kawasan subur. Selain unsur media tanam dari material vulkanik yang mendukung, dalam hal pengairan pun juga sangat gampang didapat.
Utamanya di utara Kali Serinjing, sumber air jumlahnya melimpah. Di sekitar aliran ini pula, arung atau terowongan air juga banyak dijumpai. Kata Pemerhati Sejarah Kabupaten Kediri Novi Bahrul Munib, arung merupakan salah satu teknologi nenek moyang untuk mencari sumber air.
Menurutnya, sejak dulu, sejak era kerajaan, mata air sangatlah penting bagi kehidupan. “Air merupakan sumber perwujudan untuk menyucikan diri,” ungkapnya.
Banyaknya sumber air di kawasan ini menjadi suatu berkah bagi banyak orang. Sejak dahulu sumber mata air di sana, telah dimanfaatkan. Baik untuk sumber kehidupan hingga tempat persucian.
Lelaki yang juga ketua Pelestari Sejarah dan Budaya Kadhiri (Pasak) ini mengatakan bahwa selama ini penemuan-penemuan benda dan bangunan bersejarah juga tak jauh dari sumber mata air. Di Desa Brumbung, Kecamatan Kepung salah satunya.
“Ada di salah satu sumber, terdapat beberapa fragmen dari batu andesit. Mulai umpak, jaladwara, lumpang juga ada,” ujarnya.
Termasuk di penemuan struktur bata kuno yang baru saja ditemukan. Yakni di kawasan Watutulis juga banyak mata air. Bahkan, di lokasi itu juga terdapat petirtaan kuno. Sebuah bangunan zaman kerajaan yang dianggap sebagai tempat bersuci yang sakral. “Dari zaman kerajaan sumber air sudah dikelola dengan baik,” terangnya.
Novi menjelaskan bahwa sumber air diyakini sebagai sumber kehidupan dan tempat kesucian. Oleh karena itu, di sumber tersebut seringkali dibuat untuk pemujaan dan disakralkan.
Salah satu sumber air yang cukup besar dengan aliran melimpah di utara Gunung Kelud adalah Sumber Krenceng. Lokasinya berada di Desa Krenceng, Kecamatan Kepung. Sekitar 500 meter dari Kali Serinjing. Kali kuno yang termuat dalam Prasasti Harinjing. Menuju lokasi ini sangatlah mudah, dekat dengan Jalan Raya Pare-Kandangan. Masuk kawasan ini jalanan juga sudah beraspal.
Tak jauh dari sumber ini juga pernah ditemukan benda-benda purbakala. Seperti arca Ganesha di sebelah utara, yakni di Dusun Kwagean juga ada lingga yang lengkap dengan yoni yang ditemukan masih dalam satu desa, tepatnya di Dusun Nglarangan. Bahkan sejak zaman kolonial hingga sekarang pun sumber air itu dimanfaatkan banyak orang.
Kepala Desa Krenceng Sumari mengatakan zaman kolonial, sumber air ini digunakan untuk pengairan utama bagi Rumah Sakit HVA Toeloengredjo Pare. Sebuah rumah sakit milik perusahaan Handles Vereniging Amsterdam (HVA) yang merupakan perusahaan perkebunan terbesar kala itu. “Hingga saat ini juga masih dimanfaatkan. Orang luar kota juga sering ke sini untuk mengambil air dari sumber,” ujarnya. Mereka yang datang ke Sumber Krenceng meyakini bisa untuk kesembuhan penyakit.
Pentingnya air dari zaman kerajaan juga diperkuat oleh Pengamat Sejarah Achmad Zainal Fachris bahwa air merupakan suatu yang sangat penting. Di masa kerajaan, air ini sebagai salah satu wujud yang benar-benar di jaga. Hal ini karena air sangat erat kaitannya dengan kehidupan semua makhluk hidup. “Baik untuk untuk keperluan irigasi, juga untuk mensucikan diri,” katanya.
Dengan banyaknya sumber air itu, tak heran jika kawasan lereng utara Gunung Kelud ini dinilai sebagai lokasi penting. Sebuah kawasan yang sejak dulu diyakini memiliki sumberdaya melimpah. Bukti kemakmuran, hingga banyak penganugerahan dari pemerintah kerajaan. (din/dea/bersambung)
Editor : adi nugroho