Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Wisata Sejarah Kediri: Totokkerot dan Petilasan Jayabaya Unggulannya

adi nugroho • Selasa, 16 Juni 2020 | 15:46 WIB
wisata-sejarah-kediri-totokkerot-dan-petilasan-jayabaya-unggulannya
wisata-sejarah-kediri-totokkerot-dan-petilasan-jayabaya-unggulannya

KABUPATEN, JP Radar Kediri - Berbicara soal Totokkerot bisa jadi kurang menarik bagi banyak orang. Sebab situs cagar budaya ini merupakan destinasi minat khusus. Artinya hanya orang tertentu yang tertarik dengan keberadaan benda bersejarah ini.


Namun jangan salah. Situs cagar budaya yang terletak di Desa Bulupasar, Kecamatan Pagu tersebut bakal menjadi lokasi wisata sejarah unggulan Kabupaten Kediri. Terlebih, baru-baru ini Totokkerot menjadi cagar budaya yang masuk daftar peringkat nasional. Pemkab pun berusaha mengenalkan cagar budaya ini lebih intensif lagi.


“Ke depan kawasan ini akan dikembangkan. Selain sebagai sarana olahraga juga untuk pengembangan kawasan cagar budaya. Seperti Totokkerot dan petilasan Sri Aji Jayabaya,” terang Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Sukadi.


Sukadi menambahkan bahwa petilasan Sri Aji Jayabaya yang terletak di Desa Menang, Kecamatan Pagu, ke depan akan dibangun museum sejarah dan purbakala. Lokasinya juga tak jauh dari calon gedung olahraga (GOR), central bussiness district (CBD) SLG, dan Totokkerot. Jaringan pendukung berupa jalan protokol juga telah disiapkan. “Hal itu untuk mempermudah akses dan pengembangan kawasan,” tambahnya.


Sementara ini untuk ruang terbuka hijau (RTH), tahun lalu juga telah dibangun. Tepat di samping Arca Totokkerot yang juga merupakan penyangga kawasan SLG. Kawasan ini disiapkan  dengan konsep khusus. Yaitu bertema sejarah dan budaya.


Terkait tiga kawasan itu, Ketua Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kabupaten Kediri Eko Ediono menegaskan bahwa keberadaan ketiganya memiliki makna masing-masing. “Arca Totok Kerot memiliki makna historis, perkembangan peradaban, dan pariwisata. Petilasan Sri Aji Jayabaya memiliki makna budaya, spiritual, dan pariwisata. Sedangkan CBD SLG memiliki makna ekonomi dan  pariwisata,” terang Eko. Untuk itu, dalam hal pembangunannya, Eko menekankan ketiganya harus tetap terpelihara dengan makna masing-masing.


Pada ketiga kawasan itu, menurut Eko, ada kesamaan. Yaitu makna pariwisata yang fungsional. “Artinya, disamping makna budaya, sejarah dan spiritual yang bersifat intrinsik, ketiganya memiliki fungsi eksternal ke masyarakat, yaitu pariwisata,” ungkapnya.


Dan yang terpenting, Eko melanjutkan bahwa ketiganya bisa menjadi pusat wisata edukasi sejarah di Kabupaten Kediri. Khususnya yang terkait dengan nilai-nilai edukatif kesejarahan. Terutama di Totokkerot dan petilasan Sri Aji Jayabaya. “Siswa-siswa yang berkunjung ke kedua situs tersebut akan mengenal sejarah masa lalu Kediri,” tambahnya.


Khusus untuk petilasan Sri Aji Jayabaya, menurut Eko, adanya even budaya spiritual sangat penting. Terlebih selama ini acara-acara di sana selalu dihadiri oleh ribuan pengunjung dari berbagai daerah. Ke depan bisa menjadi agenda kepariwisataan rutin.


Sementara kawasan SLG dapat menjadi sebuah pusat wisata terpadu. Mulai wisata bisnis, tematik, panoramik, edukasi, kuliner, hingga budaya. “Diharapkan ketiganya akan menjadi objek wisata unggulan di Kabupaten Kediri. Yang memiliki segmen pengunjung dengan segmen pasar masing-masing,” jelas pria yang juga anggota tim pertimbangan percepatan pembangunan (TP3) Kabupaten Kediri ini.


Yang menjadi catatan, dalam hal pembangunan di kawasan ini, Eko juga berpesan, apabila ditemukan situs atau benda purbakala yang sangat bernilai sejarah di manapun, maka harus ada laporan. Terutama benda purbakala yang memungkinkan secara teknis dan memiliki nilai peruntukan. “Tentu saja harus dilakukan penggalian situs atau benda tersebut dengan mempertimbangkan berbagai faktor terkait,” pungkasnya.  

Editor : adi nugroho
#kediri