Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Empat Warga Kediri Tolak BLT, Ini Alasannya

adi nugroho • Rabu, 20 Mei 2020 | 00:00 WIB
empat-warga-kediri-tolak-blt-ini-alasannya
empat-warga-kediri-tolak-blt-ini-alasannya

 


KABUPATEN, JP Radar Kediri – Empat warga asal Kecamatan Tarokan dan Kecamatan Grogol memilih menolak bantuan langsung tunai (BLT), Senin (18/5). Mereka menganggap tak lagi layak menerima bantuan karena masih mampu.


Informasi yang dimiliki Jawa Pos Radar Kediri, tiga warga berasal dari Desa Sumberduren, Kecamatan Tarokan, dan satu warga lainnya berasal dari Desa Wonoasri, Kecamatan Grogol.


“Saya mundur menerima BLT setelah musyawarah dengan keluarga Mas. Karena usaha saya juga sudah stabil dan menurut saya ada yang lebih membutuhkan,” terang Mohammad Roikhan, 30.


Sehari-hari Roikhan adalah penjual kerupuk. Saat awal pandemi Covid-19, Roikhan memang terdampak karena penjualan berhenti. Kondisi itu berlangsung hingga akhir April. Tapi, ternyata saat menjelang lebaran, ternyata pesanan kerupuk kembali lancar. “Akhirnya saya memilih menandatangani surat pernyataan menolak,” terang Roikhan samil tertunduk malu. Dia baru tanda tangan kemarin pagi, selisih seminggu setelah dirinya menerima pengumuman akan menerima bantuan sebesar Rp 600 ribu tersebut.


Sebelumnya, dua hari setelah membaca pengumuman, dia menemui Kepala Desa Sumberduren Bambang Tri Wahyudi. Dia meminta agar namanya dicoret dari daftar penerima.


Kedatangan Roikhan untuk menolak BLT tersebut diakui Bambang. “Saya kaget, karena dari kriteria Dinas Sosial, yang bersangkutan (Roikhan) memang layak menerima,” tutur Bambang saat dihubungi Jawa Pos Radar Kediri, kemarin.


Menurut Bambang, wirausaha yang dilakukan Roikhan masih berskala kecil. Bahkan dia masih tinggal satu atap dengan orang tuanya. “Menurut saya yang dilakukan Roikhan itu baik dan gentleman. Saat semua berharap bantuan, secara ksatria dia menolak bantuan,” jelasnya.


Bambang juga mengungkapkan bahwa sebenarnya ada tiga orang yang mengundurkan diri dari daftar BLT. Selain Roikhan, ada Ruslan dan Arifin. Tetapi, Bambang menuturkan kalau dua warganya tersebut memang sebenarnya tergolong mampu. Sementara Roikhan diketahui berasal dari warga tak mampu.


Satu warga lainnya yang juga menolak adalah Nyoradi, 53, warga Wonoasri. Hanya saja, pria yang juga tukang becak ini menolak penjelasan alasan penolakan tersebut. Saat ditemui kemarin siang di tempatnya mangkal, Nyoradi mengelak. “Jangan mas, saya repot,” ucapnya.


Kepala Desa Wonoasri, Kecamatan Tarokan Anik Muryantini juga mengaku kesulitan mendapat alasan penolakan bantuan tersebut. Padahal, berdasarkan pemantauannya, Nyoradi memang layak mendapatkan bantuan. “Dia hidup sendiri, hanya mengandalkan diri dari becak,” terangnya. Sebelumnya Nyoradi tinggal dengan ibunya, namun beberapa waktu lalu meninggal.


“ Saya sudah membujuknya berkali-kali untuk datang ke kantor desa. Namun dia tetap bersikeras menolak ajakan itu,” tuturnya.  Anik menduga, Nyoradi yang hidup sendiri tidak pantas menerima bantuan karena masih mampu memenuhi kebutuhannya. Sehingga dia membiarkan warga lain mendapatkannya.


Sayang, sampai saat ini Nyoradi sendiri belum menandatangi surat pernyataan pengunduran diri BLT yang dibuat Anik. datang di kantor desa dan mengutarakan alasanya sebenarnya menolak bantuan tersebut.


 


 


Mereka Menolak BLT


 


Asal Desa             Kecamatan          Nama          Pekerjaan


Sumberduren        Tarokan                M. Roikhan Pedagang Kerupuk


Sumberduren        Tarokan                Ruslan        Sopir


Sumberduren        Tarokan                Arifin          Pedagang Elpiji/Air Isi Ulang


Wonoasri              Grogol                  Nyoradi      Tukang Becak


 


 

Editor : adi nugroho
#warga kediri #bantuan langsung tunai #covid 19