Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Kriminalitas Meningkat karena Tekanan Ekonomi? Ini Kata Psikolog

adi nugroho • Selasa, 19 Mei 2020 | 12:54 WIB
kriminalitas-meningkat-karena-tekanan-ekonomi-ini-kata-psikolog
kriminalitas-meningkat-karena-tekanan-ekonomi-ini-kata-psikolog

 


KOTA, JP Radar Kediri - Fenomena peningkatan tindak kejahatan selama pandemi korona seperti sekarang tak hanya persoalan tekanan ekonomi saja. Beberapa faktor lain bisa memicu munculnya aksi anti-sosial tersebut. Termasuk karena faktor kepribadian pelaku.


Psikolog Inneke Yuliana mengatakan, banyak hal yang memicu terjadinya tindak kejahatan. Salah satunya yang paling umum memang karena impitan persoalan ekonomi. Namun, yang perlu dipahami, tidak semua tekanan ekonomi memicu munculnya tindak kejahatan.


“Jadi, tidak serta merta alasan tekanan ekonomi membuat perilaku seseorang berubah (menjadi jahat),” terang Inneke.


Tekanan ekonomi akan menyeret orang berbuat jahat bila ada katalisatornya. Yaitu kepribadian orang tersebut yang memang jahat. Kecenderungan adanya gangguan kepribadian yang dimiliki pelaku. Yaitu cenderung anti-sosial sehingga tak memiliki empati terhadap orang lain.


“Tentunya hal ini biasanya menjadi modus kejahatan. Yang digunakan pelaku untuk mendapatkan semua yang dia mau,” kata Inneke lagi.


Seperti diketahui, aksi kejahatan di masyarakat meningkat saat pandemi korona saat ini. Hal itu membuat masyarakat menjadi khawatir. Apalagi kejahatan yang terjadi langsung menyentuh masyarakat kalangan bawah. Seperti pencurian, penjambretan, serta perampasan.


Banyak pihak yang menganggap eskalasi itu disebabkan karena efek ekonomi yang diakibatkan pandemi. Banyaknya pemutusan hubungan kerja (PHK) dan melemahnya sektor ekonomi secara umum menjadi beberapa sebab. Ironisnya, pelaku kejahatan itu juga tak pandang bulu. Karena menyasar ibu hamil hingga wanita tua.


Masih menurut Inneke, selain faktor ekonomi ada beberapa faktor lain yang dapat berpengaruh. Seperti faktor kerohanian dan juga lingkungan sekitar. Faktor lingkungan itu bila dirinci seperti akibat pergaulan serta pola asuh orang tua yang kurang mengena.


Soal tindak kejahatan berulang yang dilakukan para mantan napi, Inneke juga menyebut ada beberapa faktor yang menjadi sebab. Bisa jadi pola pemidanaan yang mereka terima tak membuat jera. Meskipun para napi itu mendapatkan pendidikan dan dilatih bekerja selama di penjara tapi hal itu belum cukup. Karena juga kembali ke pribadi napi masing-masing.


“Berulangnya kembali tindakan kejahatan yang dilakukan napi itu bisa ya bisa tidak,” kata Inneke.


Menurutnya, jika selama di dalam penjara ada pembelajaran yang diperoleh. Kemudian ada wadah untuk menampung serta ketika keluar penjara mereka mendapatkan lapangan kerja, maka kemungkinan menjadi jahat bisa berkurang. Namun, hal itu bisa terjadi bila napi terjebak pada kondisi sebaliknya. Meskipun faktor utama tetap pada diri masing-masing napi. Bila memiliki nafsu melakukan kejahatan maka bisa saja mereka mengulang aksi jahatnya.


 

Editor : adi nugroho
#hukum #kediri #kriminal