Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Tokoh Lintas Agama Berkumpul di Ndalem Pojok, Ini yang Dilakukan

adi nugroho • Minggu, 26 April 2020 | 21:09 WIB
tokoh-lintas-agama-berkumpul-di-ndalem-pojok-ini-yang-dilakukan
tokoh-lintas-agama-berkumpul-di-ndalem-pojok-ini-yang-dilakukan

KEDIRI - Berbagai cara dilakukan untuk menghalau penyebaran Covid-19 yang melanda negeri ini. Salah satunya uapaya doa bersama secara tradisional. Di Ndalem Pojok Persada Soekarno Kediri, hal itu dilakukan dengan cara ritual luhur adat dan budaya Jawa pada Kamis malam (23/4).


Ketua Harian Situs Ndalem Pojok Kushartono mengatakan bahwa wabah korona atau biasa disebut pagebluk merupakan hal biasa dalam perjalanan bangsa. “Bukan hanya Covid-19 yang kali ini menghebohkan Indonesia. Dahulu-dahulu juga sering terjadi pagebluk,” ungkapnya.


Sayangnya, ritual luhur adat budaya bangsa mengusir pagebluk itu kini nyaris punah. Bahkan tak sedikit generasi bangsa yang tidak tahu bahwa banyak tradisi negosiasi pagebluk. Untuk itu, demi melestarikan kegiatan tersebut Kus dan penggiat budaya lain yang prihatin mencoba membangkitkan lagi tradisi yang selama ini hampir ditinggalkan itu.


Bersama Persaudaraan Cinta Tanah Air Indonesia Kediri, mereka mencoba antisipasi  Covid-19 dengan paduan cara modern. Yakni penyemprotan disinfektan digabungkan dengan cara-cara tradisi leluhur. Dengan memadukan doa, rajah, empon-empon, keris pusaka, tombak, bambu, janur, dan rokok.


“Ini dilakukan dengan perwakilan para tokoh pemuka agama. Baik  Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, dan juga Konghucu,” papar Kus.


Selain sebagai tolak balak pagebluk, menurutnya, kegiatan itu juga sebagai penguatan tali persaudaraan dan doa bersama untuk bangsa dan negara dalam  menghadapi wabah Covid-19 ini. “Acara diselenggarakan atas dasar kesadaran bersama akan spirit Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika,” tambah Kus.


Ia menyebut bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) ini berdasarkan Pancasila. Bukan berdasarkan agama. Pancasila itu bukan agama, tapi Pancasila menyuburkan semua agama di Indonesia.


Untuk itu, Kus mengatakan, sebagai bangsa yang berjiwa Pancasila maka semangat dalam berkehidupan berbangsa dan bernegara ini adalah semangat gotong royong. “Apapun keadaan dan situasinya, jangan sampai tergerus. Karena ini jiwa kita. Apalagi dalam situasi wabah corona seperti ini," ungkapnya.


Karena itulah, Kus menyatakan, para tokoh merasa perlu bertemu bersilaturahmi menguatkan rasa persaudaraan sekaligus mengadakan doa bersama. Mengadakan doa bersama bukan hanya satu agama, bukan hanya satu golongan, dan bukan hanya satu keyakinan. “Tapi kita lakukan bersama-sama dalam semangat Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika,” tegasnya.


Dalam kegiatan doa bersama itu, mereka saling menghormati, berdoa menurut agama dan keyakinan kita masing-masing. “Dengan memohon kepada  Tuhan Yang Maha Esa agar Indonesia segera selamat terbebas dari korona," tambah Ki Bukori, salah satu pemuka aliran kepercayaan.


Dalam prosesi acara tersebut, pihak panitia tetap mematuhi imbuan pemerintah terkait physical distancing. Tidak ada pengumpulan massa. Namun hanya menghadirkan lima tokoh pemuka agama.


Sementara masyarakat atau umat yang lain dianjurkan untuk mengikuti secara online dari rumah masing-masing. Baik melaui channel youtube dan instragam yang telah disediakan panitia.

Editor : adi nugroho
#wates