KABUPATEN, JP Radar Kediri - Pemerintah telah menentukan hari ini sebagai awal Ramadan 1441 hijriah. Setelah pelaksanaan pemantauan hilal di beberapa daerah mampu melihat bulan baru. Hanya, di Kediri justru hilal tak terlihat karena terhalang mendung.
Pemantauan hilal di Kabupaten Kediri berlangsung di Kecamatan Kandangan. Tepatnya dari menara masjid MAN 3 Kediri. Dilakukan oleh Badan Hisab Rukyat dan Pengadilan Agama Kabupaten Kediri.
Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Kediri Ahmad Zuhri mengatakan, pemantauan hilal tahun ini sedikit berbeda. Orang yang terlibat dibatasi untuk menaati protap dan mencegah risiko penyebaran Covid-19. Physical distancing juga diterapkan. “Sebelum melakukan pengamatan, mereka yang terlibat telah mencuci tangan dan menggunakan hand sanitizer. Suhu badan juga sudah dicek,” kata Zuhri.
Dalam pemantauan kemarin, sebenarnya matahari terlihat jelas sebelum terbenam. Hanya saja, beberapa menit setelahnya matahari tertutup mendung. Sehingga tepat ketika terbenam hilal tak bisa terlihat.
“Kami sudah berusaha. Badan Hisab Rukyat dan Pengadilan Agama Kabupaten Kediri telah melaksanakan tugasnya tapi kami belum berhasil melihat hilal karena tertutup mendung,” jelas Zuhri.
Meski demikian ia tak kecewa. Sebab kegiatan ini menurutnya sebagai materi edukasi baik untuk siswa di MAN 3 Kediri, guru agama, dan juga perwakilan dari pondok pesantren di Kabupaten Kediri.
“Ini sebagai bahan pemberian materi terkait melihat hilal. Tidak hanya menjelang Ramadan saja, tapi beberapa bulan sekali akan dilakukan kegiatan serupa sebagai pembelajaran,” ungkapnya.
Berdasarkan pemantauan langsung dari Menara Masjid MAN 3 Kediri kemarin, telah dilakukan penghitungan awal bulan dengan sistem empiris. Ketua BHR Kabupaten Kediri Reza Zakaria mengatakan bahwa tinggi matahari saat terbenam adalah minus 1 derajat 11 menit 58 detik. Dengan keadaan hilal miring ke arah selatan.
Dari lokasi pengamatan, hilal bisa terlihat pada pukul 17.27 WIB. Yakni ketika matahari tenggelam. “Dengan durasi atau lama hilal 13 menit 32 detik. Sehingga pada pukul 17.40 WIB lebih 34 detik sudah ghurub hilal,” jelasnya.
Ia menyebut, meski di Kediri hilal tak terlihat, dan tidak ada satu saksi pun yang melihatnya, namun ada beberapa tempat yang berhasil melihat hilal. Salah satunya di Bukit Condrodipo Gresik.
“Sebenarnya sempat cerah. Tapi saat mendekati tenggelamnya matahari ada mendung yang menghalangi proses matahari tenggelam di ufuk barat,” ungkapnya.
Terkait lokasi MAN 3 Kediri di Kandangan ini, Reza menjelaskan bahwa sekolah yang terletak di Jalan Jombang Desa Kasreman tersebut dari segi ufuk sudah memenuhi. Karena memiliki potongan ufuk paling tinggi setengah derajat. Baik di utara maupun selatan. “Jadi sudah bagus dan tepat untuk lokasi rukyat,” ujar wakil sekretaris Lembaga Falakiyah PBNU ini.
Bahkan sekitar 3 derajat di atas ufuk, jika dilihat dari tempat tersebut masih bisa terlihat. Namun sayang, tepat saat tenggelamnya matahari kemarin tak bisa melihat hilal karena mendung.
Selain dihadiri Kakan Kemenag Kabupaten Kediri juga diikuti perwakilan Kemenag Kota Kediri. Termasuk perwakilan Ponpes Lirboyo, Sumbersari, dan Kwagean. Juga perwakilan organisasi masyarakat (ormas) Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, dan LDII.
Sehari menjelang awal Ramadan kemarin, peningkatan jumlah peziarah terlihat di berbagai tempat pemakamam umum (TPU). Hal itu langsung berpengaruh pada peningkatan omzet para penjual bunga setaman, bunga yang digunakan untuk tabur dalam ziarah kubur.
Peningkatan penjualan bunga setaman itu, salah satunya, terlihat di perempatan Jalan Gatot Subroto di Kelurahan Mrican, Kecamatan Mojoroto. Menurut Darwanti, salah seorang pedagang bunga, peningkatan itu mulai terasa sejak Rabu (22/4).
“Masih banyak yang cari bunga,” akunya.
Di lokasi itu, pedagang bunganya berderet. Hampir semua melayani pembeli. Bahkan, beberapa stan terlihat antrean. Menunggu penjual meracik bunga yang dipesan.
Menurut Darwanti, dibanding hari biasa, menjelang Ramadan seperti kemarin itu, omzetnya meningkat. Biasanya yang terjual hanya sekitar lima kilogram bunga dalam sehari. Sedangkan kemarin dia sehari mampu menjual 25 kilogram.
Wanita ini menjual bunga setaman dalam dua paket. Seharga Rp 3 ribu dan Rp 5 ribu. Yang membedakan, yang seharga Rp 3 ribu isinya tak terlalu lengkap dan dibungkus dengan daun pisang. Sedangkan yang lebih mahal ada tambahan bunga mawar utuh dan dikemas dalam kantung plastik transparan.
“Satu bungkus ada bunga mawar merah, kenanga kantil kuning, dan pacar air,” jelasnya.
Pembeli juga bisa meminta jenis berbeda, tidak sama seperti yang disiapkan. Seperti yang dilakukan Tina, yang hanya minta bunga kantil dan kenanga saja. “Karena lebih harum,” aku perempuan warga Kelurahan Dermo, Kota Kediri ini.
Tina mengaku tetap berziarah kubur karena sudah tradisi jelang Ramadan. Dia tidak tahu bila ada imbauan tidak melakukan tradisi nyekar itu. Yang dia tahu hanya imbauan agar tidak keluar rumah. Karena nyekar sudah jadi tradisi, dia merasa ada yang kurang bila tidak melakukan. Meskipun kali ini lebih singkat.
“Sebagai syarat saja. Setelah berdoa langsung pulang,” kilahnya.
Editor : adi nugroho