Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Ogoh-ogoh Dibakar Tanpa Kirab, PCNU Tak Gelar Perayaan Isra Mikraj

adi nugroho • Jumat, 27 Maret 2020 | 16:16 WIB
ogoh-ogoh-dibakar-tanpa-kirab-pcnu-tak-gelar-perayaan-isra-mikraj
ogoh-ogoh-dibakar-tanpa-kirab-pcnu-tak-gelar-perayaan-isra-mikraj

Sementara itu, Ritual Tawur Kesanga di pura Kerta Bhuwana Giri Wilis Desa Bajulan, Loceret tetap digelar kemarin (24/3). Prosesi yang biasanya diikuti ratusan orang itu hanya dilakukan oleh belasan orang saja. Pun saat membawa ogoh-ogoh.


Pemangku Pura Kerta Bhuwana Giri Wilis Damri mengatakan, prosesi  prosesi Tawur Kesanga tahun ini berubah total dibanding rencana sebelumnya. “Aturan terkait kewaspadaan Covid-19 ini terus berubah. Kami mengikuti anjuran pemerintah yang melarang mengumpulkan massa,” ungkapnya.


Awalnya, kirab Ogoh-ogoh tetap akan dilaksanakan dan dibagi menjadi tiga tempat. Itu dilakukan untuk memecah konsentrasi massa. Namun sebelum pelaksanaan dimulai, kepolisian dan TNI meminta agar seluruh kegiatan dilakukan di dalam Pura. “Ogoh-ogoh ini dibuat sebelum wabah Covid-19,” lanjutnya.


Rencananya, ogoh-ogoh akan diarak seperti ritual yang biasa dilakukan. Tetapi, hal tersebut diurungkan setelah melihat situasi yang tidak kondusif. Mereka memilih mengikuti anjuran polisi dan TNI yang hadir di lokasi.


Diakui Damri, kirab ogoh-ogoh sering kali mengundang minat massa. Warga di luar umat Hindu pun tertarik datang untuk menyaksikan prosesi yang digelar sebelum perayaan Nyepi itu.


Dengan perubahan pelaksanaan kirab ogoh-ogoh kemarin (24/3), praktis tidak ada massa yang berkumpul di pura Kerta Bhuwana Giri Wilis. Ogoh-ogoh yang rencananya dibakar di tepi sungai Bajulan itu juga dibakar di dalam pura. “Ini bagian dari darma negara, mematuhi aturan dari pemerintah,” terangnya.


Sementara itu, meski prosesi pembakaran ogoh-ogoh dilakukan tanpa kirab, ritual yang dimulai sekitar pukul 13.00 kemarin (24/3) tetap berjalan khidmat. Damri menjelaskan, tawur kesanga ini merupakan ritual untuk memohon kepada Sang Pencipta. Yaitu, agar bumi atau alam semesta ini dibebaskan dari marabahaya. “Termasuk penyakit (Covid-19, Red),” tandasnya.


Pantauan koran ini, Tawur Kesanga kemarin hanya diikuti 15 orang. Mereka adalah para pemangku dan perwakilan umat Hindu. Usai ritual, tiga ogoh-ogoh raksasa di pura langsung dibakar.  Acara diakhiri pembagian air suci dan nasi kuning ke rumah umat Hindu. Pengambilan air suci dan nasi kuning ini akan diwakilkan agar tidak ada kerumunan massa.


Untuk diketahui, tak hanya umat Hindu yang melakukan penyesuaian terkait kegiatan keagamaan mereka. PCNU Nganjuk memutuskan tak menggelar acara yang mengumpulkan massa dalam perayaan Isra Mikraj Maret ini. Ketua Tanfidziah PCNU Nganjuk Bisri Hisyam menjelaskan, semua kegiatan yang mengumpulkan massa untuk sementara waktu ditunda. “Kami minta MWCNU dan semua elemen NU tak menggelar kegiatan pengumpulan massa,” tegasnya.


Lebih lanjut Bisri mengungkapkan, pihaknya sudah banyak membatalkan sejumlah kegiatan pertemuan. Hingga akhir Maret ini tidak ada lagi jadwal kegiatan dengan jumlah massa banyak.


Bagaimana dengan kegiatan TPA yang tetap digelar? Bisri meminta pengelola mengikuti instruksi pemerintah. “Kalau ada larangan, sebaiknya sementara waktu diliburkan. Bisa mengaji di rumah,” sarannya.

Editor : adi nugroho
#polres nganjuk #kabar nganjuk #kirab #radar nganjuk