KABUPATEN, JP Radar Kediri — Sejumlah perajin ogoh-ogoh untuk menyambut peringatan Nyepi kecewa. Pasalnya, ada imbauan tidak boleh arak-arakan patung simbol penolak bala itu. Ini menyusul masih merebaknya virus korona atau Covid-19.
Sejak ada imbauan itu, Muji, 33, perajin ogoh-ogoh asal Dusun Maron, Desa Senden, Kecamatan Kayenkidul, mengaku, kurang bersemangat. Padahal, beserta beberapa pemuda dusunnya, ia telah membuat dua ogoh-ogoh.
“Jadi untuk mau mempercantik itu ya semangatnya kurang Mas. Tadi kan rencananya mau dilomba. Tapi gara-gara ada penyakit itu, tidak jadi. Terus terang, saya kecewa,” terangnya kepada koran ini, kemarin (19/3).
Muji mengatakan, membuat ogoh-ogoh tersebut sejak awal Februari. Untuk biayanya tergantung seberapa besar ukurannya. Semakin besar, makin mahal. “Ini saya buat sendiri Mas, seperti sirahe, wajahe, badannya ini juga,” ujarnya.
Rata-rata, menurut Muji, biaya pembuatan ogoh-ogoh ukuran kecil sekitar Rp 500 ribu. “Kalau yang agak besar itu biayanya sampai Rp 1,5 juta,” jelas pemuda yang rumahnya dekat dengan Pura Empu Sedah tersebut.
Kedua ogoh-ogoh bikinan Muji memang tampak belum selesai. Yang berukuran kecil tingginya sekitar 1 meter berwarna kuning. Ogoh-ogoh tersebut masih dalam proses pewarnaan.
Sementara ogoh-ogoh yang berukuran besar, tingginya sekitar 3 meter dan warnanya biru. Itu juga masih dalam proses pewarnaan. “Belum jadi semua ini Mas. Kalau yang besar ini sudah 90 persen, kalau siang gini kita jemur. Kalau tidak diarak itu ya tambah kecewa Mas. Biayanya itu lho,” papar Muji.
Tak hanya Muji yang kecewa dengan imbauan agar tak mengarak ogoh-ogoh, Panji, 21, juga kecewa. Berbeda dengan Ogoh-ogoh Muji yang belum selesai, bikinan Panji justru sudah selesai.
Ogoh-ogohnya berukuran sekitar 1,5 meter. Desainnya dengan polesan bermacam-macam warna serta berhiaskan pakaian. “Pembuatannya sekitar 30 hari ini Mas. Kalau biaya Rp 1 juta ke atas. Yang membuat ini bapak sama saya. Kadang dibantu tetangga,” jelas dia.
Sebelumnya, ungkap Panji, tak ada imbauan untuk tidak mengarak ogoh-ogoh. Maka biasanya, umat Hindu di Dusun Maron mengaraknya hingga ke luar desa. “Biasanya pas malam Nyepi itu kita arak sampai ke luar desa Mas. Setelah itu dibakar di Sungai Tangkis untuk menolak bala,” tuturnya.
Namun, sambung Panji, akan ada pertemuan antara pemerintah desa (pemdes) dan tokoh Hindu. Mereka akan mengadakan musyawarah. “Nanti malam masih ada rapat lagi Mas. Belum tahu nanti gimana, tapi harapannya bisa diarak. Kalau tidak boleh ke luar desa, di dalam desa saja. Kalau tidak diarak ya eman-eman, karena biayanya itu kan mahal, biayanya ini urunan sama umat,” pungkas Panji.
Editor : adi nugroho