KABUPATEN, JP Radar Kediri - Hujan deras yang mengguyur lereng Gunung Wilis, Senin (2/3) sejak siang hari hingga malam hari membuat volume air di sejumlah sungai meningkat. Akibatnya, air sungai menjadi meluap dan tanggul jebol.
Data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kediri, setidaknya ada dua tanggul yang jebol dan merendam empat desa di dua kecamatan. Yaitu . Di antaranya Desa Sumberduren, Kecamatan Tarokan; Desa Jati, Kecamatan Tarokan; Desa Sumberejo, Kecamatan Grogol; Desa Cerme, Kecamatan Grogol, dan Desa Cerme, Kecamatan Grogol.
“Tanggul Kalikoso yang jebol membuat air meluber di Desa Sumberduren, Tarokan,” terang Plt Kepala BPBD Slamet Turmudi dalam pers releasenya. Selain itu, air Sungai Kalikandang juga meluap sehingga merendam persawahan serta permukiman di Desa Sumberejo dan Desa Cerme, Kecamatan Grogol. Tak hanya itu, luapan air juga membuat tanggul Sungai Mlinjo di Desa Gambyok jebol sehingga area di sekitar sungai juga terendam. Slamet menjelaskan bahwa BPBD telah melakukan pendataan dan penanganan darurat sehingga kerusakan akibat bencana tidak semakin meluas.
Luapan sungai yang membuat sawah terendam dibenarkan Darto, 50, warga Desa Sumberjo, Kecamatan Grogol. Saat itu, hujan memang turun sejak pukul 14.30. Sampai akhirnya pukul 16.00 WIB, air sungai benar-benar meluber dan merendam 12 rumah dan persawahan yang berada di sekitar sungai. “Sawah sudah seperti lautan air,” tutur Darto. Dia juga melihat sejumlah penjemuran padi ikut terendam sehingga beberapa petani memindahkan gabah ke truk.
Nursalim, sekretaris Desa Sumberjo mengatakan kalau sebenarnya sudah dilakukan normalisasi pada September 2019 lalu. “Normalisasi sedalam 4 meter. Tapi ternyata tidak mampu menampung air hujan,” tuturnya.
Salim menjelaskan sudah kali kedua ini Desa Sumberjo terkena banjir. Tapi, kali ini termasuk parah karena banjir sampai lutut orang dewasa hingga memasuki rumah warga. Selain hujan deras, banjir juga disebabkan sumbatan bambu dan kayu.
Hingga kemarin, BPBD Kabupaten Kediri belum melakukan penghitungan kerugian. “Hujan semalam memang menagkibatkan beberapa petak sawah di Desa Jati terendam. Tapi untuk kerugian belum diketahui secara pasti,” terang Windoko, Komandan Unit Reaksi Cepat (URC) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kediri, kemarin (3/2).
Warga dibantu anggota Koramil, dan anggota BPBD melaukan pemasangan ulang tanggul yang jebol itu kemarin. Pemasangan tersebut dimulai sekitar pukul 08.00 WIB, menggunakan material berupa pasir yang sudah dikemas dalam karung. “Sebelum itu, tanggul di area tersebut juga jebol, Mas,” terang Windoko.
Sementara itu, meski terancam serangan wereng saat musim penghujan, sejumlah petani di persawahan Kelurahan Dandangan, Kecamatan/Kota Kediri sudah mulai panen. “Diselep sendiri, Mas, di rumah,” ujar Rin, salah seorang petani kepada Jawa Pos Radar Kediri yang terlihat menggotong gabah ke truk.
Lelaki yang mengaku berasal dari Desa Kwadungan, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Kediri itu menjelaskan kalau dia memang panen lebih awal. Karena, dulu mereka juga tanam lebih awal. Ditanya tentang panen, lelaki berkumis itu menjelaskan bahwa memang rata-rata sekali panen di lahan tersebut mencapai empat ton. Dari lahan yang kurang dari satu hektare itu. “Kurang tahu luasnya ya, saya hanya diminta untuk memanen dan menanam,” imbuhnya.
Bagaimana dengan hama? Rin menjelaskan bahwa di lahan yang sedang dipanen itu, memang tidak terlalu terserang hama wereng, maupun tikus. Ia menjelaskan memang ada beberapa tanaman padi yang rusak, dan mengalami gagal panen.
Karena, seperti panen-panen sebelumnya, jumlah sekali panen tidak ada perbedaan yang mencolok. Rata-rata juga empat ton. “Perbedaan dengan yang rusak tidak banyak, kalau di sini (Lahan di Dandangan, Red), nggak tahu ya, kalau di tempat lain,” pungkasnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Kediri Ita Sacharani menjelaskan bahwa memang jika dilihat dari data yang masuk, di Kecamatan/Kota Kediri, terbanyak ditemukan hama wereng. “Catatan dari tahun-tahun sebelumnya,” imbuhnya.
Saat ini, pihak DKPP terus melakukan gerakan pengendalian OPT secara terpadu. Bersama dengan kelompok tani, mulai saat ditemukan gejala atau laporan, atau bahkan sebelum ada laporan. “Terus dilakukan sosialisasi dan koordinasi secara proaktif,” paparnya.
Untuk diketahui, DKPP Kota Kediri sudah melakukan koordinasi dengan para petani di sejumlah wilayah di Kota Kediri. Pelaksanaan pengendalian OPT, hingga sosialisasi yang dilakukan untuk mengurangi hama, dan meningkatkan produksi, serta produktivitas pertanian di Kota Kediri.
Di musim penghujan, DKPP Kota Kediri mencatat dari laporan para petani, dan juga data yang didapatkan saat sosialisasi, hama yang masih menyerang padi di lahan seluas 968 hektare total di Kota Kediri, adalah wereng, dan tikus. “Pemberian obat, hingga jebakan jika hamanya tikus, untuk wereng diberi obat juga,” pungkas Ita.
Editor : adi nugroho