KOTA, JP Radar Kediri – Beberapa faktor yang menyebabkan pedagang di Pasar Setonobetek banyak yang tak beroperasi. Salah satunya adalah kondisi pasar yang masih sepi pengunjung. Terutama di Blok A. Para pedagang di blok ini mengeluhkan omzet mereka yang menurun drastis. Karena itulah akhirnya banyak pedagang di blok ini yang memilih berjualan di luar.
Kondisi sepi pembeli itu, menurut para pedagang, sudah berlangsung satu tahun ini. Sejak pasar hasil renovasi tersebut diresmikan, yaitu pada Oktober 2018. Para pedagang yang mengeluh itu terutama yang berada di Blok A lantai 1. Salah satunya adalah Lastri. Pedagang buah asal Kelurahan Manisrenggo, Kecamatan Kota ini mengaku pendapatannya turun hingga lebih dari 50 persen.
“Omzet anjlok,” keluhnya saat ditemui Jawa Pos Radar Kediri
Dulu sebelum menempai gedung baru, Lastri mengaku, pendapatan kotornya bisa mencapai Rp 1,5 juta per hari. Bahkan, jika sedang ramai, omzetnya mencapai Rp 2 juta per hari. “Dulu lumayan penghasilannya,” ujarnya.
Sedangkan saat ini, lanjut Lastri, omzetnya terjun menjadi Rp 500 ribu per hari. Dia biasanya mulai berjualan sekitar pukul 06.00. Setelah itu, baru tutup sekitar pukul 20.00. “Berjualan dari pagi sampai malam. Tetapi tetap sepi,” ungkap perempuan 43 tahun ini.
Sejak dioperasionalkan pada 16 Oktober tahun lalu, Lastri mengaku, pengunjung Pasar Setonobetek Blok A masih sepi. Dia tidak mengetahui penyebabnya. Namun yang jelas, dari lima pedagang buah di lokasi tersebut, kini tinggal Lastri yang masih bertahan.
Sebelumnya, dia berjualan bersama penjual pisang yang menempati los di lantai 1. Namun karena sepi, mereka lebih memilih berjualan di luar. Terutama di bagian belakang pasar yang berlokasi di Jalan Pattimura, Kelurahan Setonopande, Kecamatan Kota itu. “Saya tetap berjualan di sini saja,” kata Lastri sembari berharap jumlah pengunjung semakin meningkat.
Hal senada diungkapkan pedagang konveksi. Pedagang kain dan pakaian itu sebagian menempati kios dan los di lantai 1. Agus Wantomi mengaku, dalam sehari, saat ini hanya bisa menjual satu pakaian. “Kalau sepi malah tidak dapat apa-apa,” ujar pria asal Kelurahan/Kecamatan Mojoroto ini.
Padahal di lokasi lama, rata-rata per hari bisa menjual sampai lima potong. Menurutnya, sepinya pengunjung disebabkan oleh beberapa faktor. Salah satunya tidak tersedianya tempat parkir di pasar. “Jadi parkir bisa di mana saja. Itu yang sering dikeluhkan,” katanya.
Meski demikian, pedagang berharap ada solusi dari perusahaan daerah (PD) Pasar Jayabaya Kota Kediri terkait hal tersebut. Pasalnya, banyak pedagang di blok A yang merasakan kondisi serupa. “Ya bagaimana caranya membuat pasar lebih ramai seperti dulu,” harapnya.
Sementara itu, terkait pedagang yang berjualan di luar, Direktur PD Pasar Jayabaya Kota Kediri Ihwan Yusuf membantahnya. Dia mengatakan, semua pedagang buah berjualan di lapaknya masing-masing. “Tidak ada yang di luar,” kata Ihwan.
Dia mengakui pasar di blok A memang masih sepi. Pasalnya, belum semua pedagang berjualan di sana. Masih banyak toko dan los yang belum ditempati. Karena itu, setelah ada pengambilalihan, pihaknya akan mengeluarkan program baru. “Kami berdayakan pedagang lain,” ungkap pria asal Wilangan, Kabupaten Nganjuk ini.
Sebelumnya, PD Pasar Jayabaya memberikan surat peringatan pertama (SP1) kepada 118 pedagang. Surat itu langsung diantar ke rumah masing-masing. Namun sampai kemarin, baru 5 persen pedagang yang menerima SP1.
Setelah sampai SP3, kata Ihwan, pihaknya akan mengambilalih lagi kios dan los yang dibagi. Rencananya, tempat tersebut akan diberikan kepada pedagang yang ingin berjualan. Baik dari Pasar Setonobetek maupun orang lain di luar pasar. “Asalkan mereka bisa memenuhi kewajiban dan mengikuti tarif kami, bisa kami masukkan,” katanya.
Dengan cara tersebut, lanjut Ihwan, toko dan los bisa ditempati semua pedagang. Selain itu, PD Pasar juga mempertimbangkan memasukkan pedagang kaki lima (PKL) berjualan di sana. “Masih perlu kami matangkan lagi rencana itu,” pungkasnya.
Editor : adi nugroho