NGANJUK – Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Nganjuk mulai menyiapkan petunjuk teknis (juknis) penerimaan peserta didik baru (PPDB) SMP. Tahun ini, setiap sekolah akan membuka sistem zonasi dengan kuota 90 persen. Sementara kuota tersisa akan diisi melalui jalur prestasi dan perpindahan tugas orang tua.
Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Nganjuk M. Yasin mengatakan, ada tiga jalur yang bisa ditempuh calon siswa dalam PPDB SMP. Yakni jalur zonasi dengan kuota 90 persen serta jalur prestasi dan perpindahan masing-masing lima persen. “Kami sudah mulai susun juknisnya,” ujar Yasin kepada Jawa Pos Radar Nganjuk.
Untuk diketahui, kuota zonasi tahun ini dibatasi. Sementara pada tahun ajaran 2018/2019, kuota zonasi tidak terbatas. Hanya saja, meski tidak dibatasi, rata-rata SMP hanya mampu menampung calon siswa lewat jalur tersebut sekitar 20 persen.
Permasalahannya, sistem zonasi hanya berbasis asal desa atau kelurahan yang sama dengan sekolah yang dituju. Misalnya, SMPN 1 Nganjuk yang berlokasi di Kelurahan Mangundikaran. Maka siswa yang boleh mendaftar lewat sistem zonasi harus berasal dari SD di kelurahan tersebut. Padahal selain SMPN 1, ada SMPN 7 Nganjuk yang berlokasi di kelurahan yang sama.
Mengenai sistem zonasi, Yasin mengungkapkan, pihaknya tetap memberlakukan domisili terdekat dengan SMP yang dituju. Contohnya SMPN 1 Nganjuk yang berdekatan dengan Kelurahan Kauman. Kemudian di SMPN 7 yang berbatasan dengan Kelurahan Begadung. “Jadi rumahnya yang berdekatan dengan SMP bisa mendaftar ke sana,” lanjutnya.
Dengan sistem tersebut, Yasin meyakini jumlah siswa yang tertampung di sekolah terdekat lebih banyak. Karena itulah, siswa di luar Kecamatan Nganjuk. tidak perlu jauh-jauh mendaftar ke kota. “Akan lebih banyak terserap di dekat sekolah,” tandasnya.
Bagaimana dengan jalur prestasi? Yasin mengatakan, tahun ini kuota jalur tersebut lebih kecil. Sebab tahun lalu, kuotanya bisa sampai 20 persen. Di jalur ini, siswa harus melampirkan piagam prestasi yang pernah diraih. Baik di tingkat kabupaten, nasional maupun internasional.
“Sisanya menjadi kuota jalur perpindahan. Seperti anak guru atau orang tua yang pindah tugas,” tutur mantan staf ahli bupati ini.
Lebih jauh dia mengatakan, PPDB digelar secara offline. Pendaftaran akan dibuka mulai awal Juni nanti. Meski demikian, beberapa SMP swasta di Kabupaten Nganjuk sudah mengawali pembukaan PPDB. “Kalau swasta memang kebijakan dari sekolah masing-masing,” katanya.
Sementara itu, saat ribuan siswa SMA/SMK di Nganjuk menerima hasil UNBK, kemarin ratusan siswa kejar paket B juga mengikuti ujian secara online. Dimulai Jumat kemarin, siswa akan mengerjakan soal hingga Minggu (12/5) besok. Sayangnya, di hari pertama kemarin sudah ada belasan siswa yang tidak masuk.
M. Yasin menjelaskan, total ada 254 siswa kejar paket B yang mengikuti UNBK. Mereka berasal dari 11 pusat kegiatan belajar masyarakat (PKBM) dan pondok pesantren I (ponpes). Tiga PKBM di antaranya, merupakan penyelenggara mandiri. “Karena terakreditasi,” ujar Yasin kepada Jawa Pos Radar Nganjuk.
Tiga lembaga tersebut adalah PKBM Ki Hajar Dewantara Ngetos, PKBM Harapan Jaya Tanjunganom, dan Ponpes Hidayatul Mubtadiin Kertosono. Sedangkan delapan lembaga lainnya harus menginduk karena belum terakreditasi.
Meskipun menjadi induk, Yasin mengungkapkan, hanya PKBM Ki Hajar Dewantara Ngetos yang menyelenggarakan UNBK di sekolah mereka sendiri. Hal itu terkait dengan kelengkapan sarana dan prasarana (sarpras). Sedangkan PKBM Harapan Jaya harus meminjam ruangan di SMPN 2 Pace.
Sementara, Ponpes Hidayatul Mubtadiin dan PKBM Tribakti harus menumpang masing-masing di SMA Islam Al Qodir Kertosono dan MTs PSM Tanjunganom.
Di hari pertama kemarin, mapel yang diujikan adalah bahasa Indonesia dan matematika. Di hari kedua, Sabtu (11/5), untuk mapel bahasa Inggris dan pendidikan kewarganegaraan (PKn). “Hari terakhir (Minggu), IPA dan IPS,” ungkap pria yang juga menjabat Plt kepala Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Dinsos PPPA) Nganjuk ini.
Di hari pertama, kata Yasin, tidak semua siswa bisa mengikuti UNBK. Dari laporan sementara yang masuk ke disdik, ada 13 peserta yang absen. Sebagian besar beralasan tidak mendapatkan izin dari tempatnya bekerja. Selain itu, ada beberapa yang sakit.
Dia mengungkapkan, siswa-siswa tersebut sebenarnya bisa dikategorikan mengundurkan diri. Sebelum ujian, mereka biasanya sudah tidak pernah aktif lagi di PKBM masing-masing.
Sementara itu, Kepala PKBM Harapan Jaya Siti Juariyah mengakui pihaknya memang harus rajin jemput bola ke rumah siswa. Terutama mereka yang sudah lama tidak aktif melakukan kegiatan belajar mengajar (KBM). “Jadi kami harus mendatangi satu per satu siswa yang jarang masuk,” ujar perempuan yang memimpin PKBM di Desa Wates, Tanjunganom ini.
Editor : adi nugroho