NGANJUK-Ketidakjelasan nasib Persenga tahun ini, direaksi oleh Supermania, julukan suporter Persenga. Selama beberapa hari terakhir mereka memasang sejumlah spanduk bertuliskan Save Persenga di sejumlah titik. Hal tersebut sekaligus merespons sejumlah permasalahan yang hingga saat ini tak kunjung tuntas.
Pantauan koran ini, ada dua jenis spanduk yang terpasang di sejumlah titik. Selain spanduk bertuliskan “Save Persenga”, ada pula spanduk bertuliskan “Persenga dibunuh mafia”.
Spanduk-spanduk tersebut di antaranya terpasang di Jl Gatot Subroto, di perlintasan kereta api Jl Diponegoro, Jl A. Yani dan beberapa tempat strategis lainnya. Ketua Supermania Rangga Nayaka yang dikonfirmasi tentang banyaknya spanduk tentang Persenga mengatakan, hal tersebut merupakan bentuk kekecewaan Supermania. Sebab, tim kesayangannya tidak ikut berkompetisi tahun ini.
Rangga menyebut, pemasangan spanduk itu tidak ada yang mengoordinir. “Mereka bergerak sendiri,” ujar pemuda asal Kelurahan Mangundikaran, Kota Nganjuk itu.
Pria berusia 33 tahun itu menyebut aksi para Supermania itu sangat wajar. Poster-poster itu, menurut Rangga merupakan cara mereka menyampaikan aspirasi mereka.
Apalagi, selama ini Supermania tidak memiliki wadah khusus untuk menyalurkan suaranya. “Spanduk itu media yang paling efektif. Spanduk Save Persenga itu wujud kepedulian Supermania,” tuturnya sembari menyebut sedikitnya ada 11 spanduk yang terpasang di sejumlah tempat.
Rangga menjelaskan, kekecewaan Supermania seolah bertumpuk tahun ini. Bukan saja karena Persenga tidak lagi ikut berkompetisi di liga. Melainkan, Supermania bereaksi mendengar kabar pembentukan klub baru di Nganjuk yang menggantikan Persenga. “Belum fix, siapa orang yang membentuk klub itu,” tegasnya.
Dia menduga, klub baru itu merupakan bentukan kepengurusan orang lama di Persenga. Pembentukan klub itu diduga hanya akal-akalan untuk menghindari masalah hutang dan denda yang belum dibayar. “Kalau berlaga nanti tidak lagi pakai nama Persenga,” beber pria yang menjabat ketua Supermania sejak 2011 lalu itu.
Jika saat ini hanya ada banyak spanduk yang dipasang Supermania, menurut Rangga tidak menutup kemungkinan nantinya akan berubah menjadi aksi. Sebelum muncul gerakan yang besar, Rangga berharap pengurus klub, KONI dan Pemkab Nganjuk bisa menjawab keresahan Supermania tersebut.
Untuk diketahui, ketidakjelasan nasib Persenga ini tak lepas dari vakumnya kepengurusan Asosiasi Kabupaten (Askab) PSSI Nganjuk. Sejak kepengurusan lama berakhir November 2018 lalu, hingga Maret ini belum kunjung digelar musyawarah kabupaten (muskab) untuk memilih pengurus baru.
Sayang, Ketua Askab PSSI Nganjuk Demisioner Suyanto belum bisa dikonfirmasi terkait kemelut di Persenga Nganjuk. Saat dihubungi melalui ponselnya kemarin, tidak aktif.
Terpisah, Ketua KONI Nganjuk M. Syamsul Hakim yang dikonfirmasi tentang permasalahan di Persenga mengatakan, KONI tidak punya kewenangan untuk mencampuri masalah Persenga. “KONI tidak bisa mengurusi Persenga,” ujar Syamsul.
Terkait kepengurusan Askab PSSI Nganjuk yang kosong, Syamsul juga mengakuinya. Karena kepengurusan yang belum terbentuk itu pula, Kabupaten Nganjuk tidak mengirim tim dalam pra Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jatim.
Editor : adi nugroho