Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Gus Muwafiq Istighotsah dan Doa Bersama di Masjid An-Nur

adi nugroho • Minggu, 24 Maret 2019 | 18:03 WIB
gus-muwafiq-istighotsah-dan-doa-bersama-di-masjid-an-nur
gus-muwafiq-istighotsah-dan-doa-bersama-di-masjid-an-nur

KEDIRI KABUPATEN - Masjid Agung An-Nur Pare dipadati ribuan orang kemarin (23/3) siang. Mereka berbondong-bondong menghadiri istighotsah bersama KH Ahmad Muwafiq. Acara itu berlangsung terkait peringatan Hari Jadi ke-1215  Kabupaten Kediri.


Dalam ceramahnya, pria yang akrab disapa Gus Muwafiq tersebut bercerita panjang lebar tentang sejarah. Tepatnya sejarah kerajaan beserta tokohnya yang ada di tanah Jawa. Terutama yang berada di Kediri. Hal itu diterangkannya karena ia ingin jamaahnya mengerti asal-usul nenek leluhurnya.


“Islam itu merawat sejarah. Oleh karena itu, sebagai seorang muslim kita tidak boleh lupa siapa leluhur kita dan bagaimana cerita di belakangnya,” tutur Gus Muwafiq dalam ceramahnya sembari melempar pandang pada jamaah yang hadir di Masjid Agung An-Nur.


Menurutnya, dalam Islam berbagai cerita tentang asul-usul sebuah kaum juga diterangkan dengan gamblang. Semua tercatat dan terdokumentasi dengan seksama. Oleh karena itulah ia menegaskan bahwa Islam itu gemar merawat sejarah. Tidak lantas melupakan asal-usulnya.


Cerita demi cerita disampaikan kepada para jamaah. Dibalut dalam suasana yang santai, istighotsah tersebut berlangsung dengan cair. Jamaah pun tidak kuat menahan guyonan yang dilemparkan Gus Muwafiq. Beberapa kali jamaah dibuat tertawa di sela-sela ceramah.


Meskipun begitu, suasana sakral dan khusyuk tak hilang dalam acara itu. Bobot dan pesan yang disampaikan patut untuk dilaksanakan. “Kalau ingin nyawiji (bersatu, Red) ya harus tahu sejarah dan asal-usul kita sebagai warga Kediri. Dengan begitu, kehidupannya bisa tentram dan dapat bersatu dengan sekitarnya,” paparnya.


Kiai berambut gondrong itu pun berpesan kepada jamaah agar beragama dengan bijaksana. Mereka perlu melihat kearifan lokal. Dengan begitu, dalam kesehariannya masyarakat akan dapat saling menghargai.


Perasaan itu memang sedang sangat dibutuhkan di Indonesia. Terutama dalam iklim mendekati pemilu seperti sekarang ini. “Belum lagi suku dan agama kita sangat beragam. Kita harus bisa saling menghargai,” pesannya.


Pada pengujung ceramahnya, Gus Muwafiq mengajak para jamaah untuk berdoa. Agar Kabupaten Kediri beserta semua warganya dapat perlindungan Sang Pencipta.


Sementara itu, acara istighotsah tersebut dihadiri ribuan jamaah yang berasal dari Kediri dan sekitarnya. Selain Bupati Haryanti Sutrisno dan Wabup Masykuri, turut hadir pula jajaran Forkompimda atau yang mewakili. Antara lain Kapolres Kediri AKBP Roni Faisal, Dandim 0809 Letkol (Kav) Dwi Agung Sutrisno, Kajari Subroto, dan Sekda Pemkab Kediri Dede Sujana. Selain itu, juga ada perwakilan kepala desa dan camat.


Dalam sambutan yang diberikan, Wabup Masykuri menyampaikan terima kasihnya kepada para undangan yang hadir. Terlebih dengan antusiasme yang ditunjukkan jamaah kemarin.


Wabup berharap agar dalam HUT ke-1215 ini, Kabupaten Kediri bisa semakin baik lagi. “Kita perlu menyatukan hati, jiwa, rasa, dan elemen lainnya. Yaitu untuk menciptakan Kabupaten Kediri yang sejahtera,” pungkasnya.  

Editor : adi nugroho
#radar kediri #kediri #kabar kediri