Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Taman Ringin Budho Sedot Rp 1,7 Miliar

adi nugroho • Selasa, 29 Januari 2019 | 02:31 WIB
taman-ringin-budho-sedot-rp-17-miliar
taman-ringin-budho-sedot-rp-17-miliar


KEDIRI KABUPATEN- Sudah sepekan ini warga Pare bisa menikmati Taman Ringin Budho. Senin (21/1) lalu, taman di Jalan Ahmad Yani ini tuntas direnovasi total. Meski banyak wahana baru, nyatanya warga masih menilai perlu perbaikan.


Salah satu yang menarik dari Ringin Budho adalah arena skateboard barunya. Fasilitas itu merupakan keinginan pemuda sejak beberapa tahun silam. “Secara keseluruhan lumayan, skatepark-nya cukup bagus. Ini yang kita inginkan sejak lama,” kata Febrian Arbi, warga Kauman, Pare.


Renovasi taman dengan anggaran Rp 1,7 miliar itu memang menambah sejumlah wahana baru. Seperti arena permainan anak, taman refleksi, dua kolam air mancur dan arena skatepark. Namun untuk skatepark merupakan hasil corporate social responsibility (CSR) PT Gudang Garam, Tbk.


Menurut Arbi, dengan adanya skatepark para penghobi BMX dan skateboard di Pare lebih nyaman bermain. Tentunya itu bisa menjadi wadah pemuda mengekspresikan kegiatan positif. Sebelumnya, jika bermain skateboard memanfaatkan sejumlah tempat. Salah satunya, halaman Gedung Serbaguna dan halaman bekas kantor Kawedanan Pare atau sanggar budaya.


“Kualitas skatepark ini juga bagus. Anak-anak senang Mas, karena bisa latihan lebih rutin,” imbuhnya.


Novita, 32, warga lain, mengaku, taman itu memang telah lama dinantinya. “Sejak direnovasi dan tertutup seng, saya sudah penasaran. Karena taman ini adalah salah satu tempat favorit warga Pare,” ungkapnya.


Meski ada beberapa pilihan taman kota di Pare, seperti Taman Kilisuci dan Hutan Kota, namun suasana Ringin Budho berbeda. Hal ini lantaran merupakan taman kota tertua di Pare. “Cukup bagus, ada penambahan fasilitas baru. Pohon yang dulu juga dipertahankan sehingga tetap teduh,” jelasnya.


Pengunjung lain, Setyowati, 29, pun senang dengan renovasi taman ini. Namun, menurutnya, masih ada sejumlah fasilitas yang kurang. Seperti keberadaan tempat sampah. "Tamannya masih ada yang kotor. Mungkin masih awal. Eman, taman baru dibuka tapi kotor. Kalau bisa dipasang papan imbauan,” ujarnya.


Minimnya tempat duduk di sejumlah sudut juga tak luput dari perhatian Setyo. Menurut warga Desa Gadungan ini, tempat duduk sangat dibutuhkan demi kenyamanan pengunjung. Termasuk di sekitar tugu Adipura di tengah taman. “Bingung Mas mau duduk di mana. Kalau lesehan kondisinya juga masih kotor. Kalau bisa tempat duduknya ditambah lagi,” harapnya.


Dalam renovasi ini, pemkab mempertahankan ikon Ringin Budho. Yakni pohon beringin besar yang menaungi arca Ganesha, salah satu ikon Pare. Keberadaan arca tersebut masih terjaga.


Winarti, 37, pengunjung taman, menyampaikan bahwa tempat parkir di sebelah selatan kurang tepat. Sebab kendaraan yang parkir menutupi papan nama Taman Ringin Budho. “Tapi secara keseluruhan cukup bagus, sudah ada toilet dan musala. Juga penataan pedagang lebih rapi. Tapi kalau bisa masalah-masalah kecil juga harus lebih diperhatikan lagi,” komentarnya.


Perbedaan yang paling terlihat dari renovasi Taman Ringin Budho ini memang pada penataan pedagang kaki lima (PKL). Dahulu pedagang berjualan di trotoar mengelilingi taman. Sekarang mereka diberikan tempat di bagian utara taman. Tempat tersebut merupakan lapak semi permanen.


Sementara untuk mengantisipasi membeludaknya PKL di sekeliling taman, pemkab telah memasang pagar. Tingginya 1,5 meter. Namun banyak yang menyayangkan pemasangan pagar tersebut. Sebab mengurangi estetika taman.  “Kesannya seperti bukan ruang terbuka hijau. Sangat tertutup. Malah menurut saya lebih bagus seperti di Taman Kilisuci, pagar bagian depan dikasih bunga dan air mancur,” tandas Mutiara, 22, pengunjung lain.


Keberadaan pagar mengelilingi taman itu cukup mengganggu estetika taman. Terlebih ruang pejalan kaki (trotoar) pun kini ditiadakan karena tertutup pagar. Sehingga, jika ada pejalan kaki yang melintas, mereka harus melalui trotoar sisi timur yang harus menyeberang jalan. “Dengan adanya pagar juga terlihat seperti kebun binatang, padahal lebih bagus kalau terbuka,” pungkasnya.

Editor : adi nugroho
#kabupaten kediri #kediri