Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Menghitung Umur dari Kepeng di Peripih Situs Klotok

adi nugroho • Rabu, 19 September 2018 | 22:31 WIB
menghitung-umur-dari-kepeng-di-peripih-situs-klotok
menghitung-umur-dari-kepeng-di-peripih-situs-klotok


KEDIRI KOTA- Hingga tuntas proses ekskavasi pertama, pihak Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur memang belum bisa memastikan tahun berdiri candi di situs Klotok. Namun, pihak BPCB Jatim mengaku sudha memiliki patokan. Yang bisa dijadikan acuan pada abad berapa Candi Klotok tersebut dibangun.


Menurut Kepala Unit Penyelamatan dan Pengamanan Cagar Budaya Nugroho Harjo Lukito, ada satu benda yang bisa jadi indikator hal tersebut. Benda tersebut merupakan sebuah peripih. Peripih itu ditemukan di bagian pojok luar candi sisi barat laut. Benda itu berada di luar pondasi. Tapi berada di kedalaman yang sama dengan pondasi.


“Peripih yang kami temukan berbentuk periuk bertutup yang kondisinya sudah pecah. Isinya yang baru kami ketahui sementara ini adalah uang kepeng berjumlah belasan biji,” terangnya.


Peripih merupakan benda-benda yang digunakan sebagai isian wadah yang terdapat pada suatu candi. Wadah tersebut bertutup berbentuk persegi yang memiliki sembilan sampai 25 lubang persegi yang disebut garbhapatra. Umumnya dipendam di dasar (sumuran) candi.


Fungsi peripih adalah untuk menghidupkan candi. Tanpa peripih candi tidak akan dapat dipergunakan sebagai tempat ibadah.


Di peripih itu, selain uang kepeng, juga ada sebuah tulang yang sudah hancur. Namun Nugroho belum bisa memastikan tulang apa yang ditemukannya. Pihaknya akan melakukan identifikasi lebih lanjut. Sementara mata uang tersebut menurutnya bisa dijadikan sebagai salah satu parameter untuk menentukan masa relatif asal muasal candi.


“Dengan mata uang itu, bisa menunjukkan salah satu dinasti pada abad tertentu. Sehingga akan mengarah ke dinasti apa uang tersebut berasal. Itulah yang bisa dijadikan patokan abad berdirinya candi ini,” jelasnya.


Sementara terkait fungsi utama candi, Nugroho menjelaskan bahwa candi yang ditemukan ini merupakan bentuk candi batur. Di mana pada bagian atas berupa sebuah pelataran. Menurutnya selama ekskavasi ini timnya tidak menemukan bilik yang mengindikasikan adanya ruangan pada bagian atas candi.


“Dalam ekskavasi ini kami juga tidak menemukan benda yang menjadi unsur-unsur. Tidak ada lingga dan yoni, juga arca berupa tokoh dewa yang kami temukan,” bebernya.


Masih menurut Nugroho, bahwa tempat-tempat yang tidak ditemukan benda tersebut biasanya digunakan untuk Wanasrama. Mereka melakukan ritual yang melepaskan semua atribut kedewaan. Jadi di tempat seperti ini mereka hanya menyatukan fikiran dan jiwa kepada sang pencipta.


“Tanpa ada embel-embel penganut Siwa, Wisnu, Brahma, ataupun Buddha,” sahutnya. Tempat semacam ini memang banyak ditemukan di lereng-lereng gunung. Seperti candi Klotok ini.


Saat ditanya potensi Candi Klotok ke depan, Nugroho menyebut hal itu akan menjadi destinasi wisata sejarah yang baru. Menjadi satu dengan wisata alam yang dipadu dengan wisata budaya.  Juga melengkapi tempat bersejarah lain seperti Gua Selomangleng dan Selobale yang letaknya tidak terlalu jauh dengan candi ini.


“Ada juga museum Airlangga yang semakin melengkapi paket wisata budaya di lereng Gunung Klotok ini,” tandasnya.


Menurutnya, candi ini punya potensi untuk dikembangkan. Arahnya selain dalam konteks pelestarian dan penyelamatan, juga untuk pengembangan dan pemanfaatan. Tentu saja masih harus melakukan perbaikan-perbaikan terlebih dahulu. Juga dengan perencanaan penataan lingkungan yang tidak merusak alam. “Itu juga perlu waktu dan tidak bisa instan. Semua itu tergantung bagaimana Pemkot Kediri menyikapi tentang hasil penemuan ini. Karena sudah jelas bahwa ini sangat potensi sekali. Dan merupakan salah satu aset peninggalan budaya yang luar biasa untuk Kota Kediri ini,” pungkasnya.

Editor : adi nugroho
#budaya #kediri #sejarah