Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Rp 18 Juta untuk Kurban Unta

adi nugroho • Minggu, 26 Agustus 2018 | 03:27 WIB
rp-18-juta-untuk-kurban-unta
rp-18-juta-untuk-kurban-unta


KEDIRI - Rasa haru dan bahagia memenuhi kalbu jamaah haji di Tanah Suci. Mereka telah sempurna menyelesaikan rangkaian ibadah haji. Islam mereka telah sempurna. Lima rukun telah tertunaikan.


"Nggak bisa berkata-kata Mas. Fisik saya sangat letih. Tapi hati saya sangat bahagia. Tidak terhingga. Belum pernah sebahagia ini. Alhamdulillah.... matur nuwun Gusti Allah....," kata Yuli Krisdianto, jamaah haji asal Desa Brenggolo, Kecamatan Plosoklaten.


Usai rangkaian Armuzna, tinggal dua ritual yang harus diselesaikan jamaah haji asal Kediri. Yakni tawaf ifadhoh dan sai. Keduanya adalah rukun haji. Bila ditinggalkan, hajinya tidak sah. Tidak bisa digantikan dengan dam.


Sesampainya di Makkah kemarin, mereka beristirahat di Hotel Safwat Al Bayt, Misfallah. Tiba sekitar pukul 14.00 Waktu Arab Saudi (WAS). Malamnya mereka menuntaskan dua rukun haji yang belum dilaksanakan. Kamis malam (23/8), tepat pukul 22.00 WAS (pukul 02.00 WIB, Jumat (24/8)) mereka berangkat ke Masjidil Haram.


Bus salawat masih belum beroperasi. Naik taksi jelas sangat mahal. Pilihannya adalah jalan kaki. Jarak maktab 48, Hotel Safwat al Bayt Misfallah ke Masjidil Haram kurang lebih 2,5 kilometer (km). Lelah kegiatan Armuzna belum hilang. Namun keinginan para jamaah untuk segera menuntaskan ritual haji membunuh lelah itu.


“Begitu sampai masjid kondisinya sangat ramai sekali Mas. Kami berusaha mencari jalan ke mataf dekat Kakbah. Namun sudah tidak bisa. Akses menuju Kakbah semua sudah ditutup. Di sana sudah berjubel. Kami akirnya naik di lantai 3,” ungkap Yuli.


Tawaf di lantai 3 tentu membutuhkan tenaga ekstra. Sekali putaran di sana sama dengan 1 kilometer. Tujuh putaran berarti tujuh kilometer. Jarak yang tidak pendek untuk ditempuh jalan kaki. “Kami menjalani dengan ikhlas dan hanya berharap rida Allah,” tutur Etik Nurhayati, jamaah asal Desa Jongbiru, Kecamatan Gampengrejo.


Selesai tawaf, para jamaah dari Kabupaten Kediri melanjutkan sai masih di lantai tiga. Jarak antara bukit Safa ke bukit Marwa sekitar 500 meter. Total jarak yang harus ditempuh dalam sai 2,5 kilometer. Semuanya dilewati oleh para jamaah dengan semangat. Agar ibadah haji mereka segera tuntas.


“Tepat pukul 03.00 kami sudah kembali ke hotel. Kira-kira hampir 20 kilometer kami berjalan. Lega sekali. Sangat bahagia. Dan semua kawan-kawan istirahat dengan tersenyum,” urai Yuli.


Paginya, sebagai bentuk rasa syukur telah diberi kelancaran dalam berhaji, para jamaah asal Kediri yang tinggal di Hotel Safwat Al Bayt, Misfallah makan bersama. Menunya nasi manadi lahm kambing. “Alhamdulillah. Ini ditraktir sama Gus Ahsin. Kebetulan katering juga belum berjalan lagi,” lanjut Yuli.


Selain itu, sebagian jamaah haji Kabupaten Kediri juga menyembelih hewan kurban. Ada yang berkurban kambing, ada juga unta. Mereka yang berkurban dikoordinasi menjadi satu. “Kami di sini punya langganan hewan kurban. Insya Allah amanah. Dibantu santri asal Indonesia yang menetap di sini,” ujar Gus Ahsinil Umam, ketua KBIH Ishlahul Ummah, yang juga ketua rombongan 8 Kloter 56 SUB.


Untuk kurban kambing, rata-rata 550 SAR per ekor. Itu setara sekitar Rp 2 juta per ekor. Sedangkan untuk unta 4.500-5.000 SAR per ekor. Bila dirupiahkan sekitar Rp 18 jutaan. Unta didapat dari peternakan di daerah Ji’ronah.


“Semuanya disembelih tanggal 11 Zulhijah. Kami masih di Mina. Kami mendapat kiriman video dan foto waktu penyembelihan. Sebelum disembelih dibacakan dulu nama orang-orang yang berkurban. Semoga diterima Allah,” pungkas Gus Ahsin.


 

Editor : adi nugroho
#kediri #cjh #makkah #haji #kurban