Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Batuk-Pilek Mulai Menyerang

adi nugroho • Jumat, 10 Agustus 2018 | 20:46 WIB
batuk-pilek-mulai-menyerang
batuk-pilek-mulai-menyerang


KEDIRI KOTA – Hari ketiga di Tanah Suci mulai diwarnai jamaah yang mulai terganggu kesehatannya. Sebagian CJH asal Kota Kediri mulai terserang batuk, pilek, serta badan pegal. Hal itu terpantau saat mereka mendatangi posko kesehatan.


Menurut dr M. Fajri, kepala Tim Kedokteran Haji Indonesia (TKHI) Kloter 53 SUB, beberapa jamaah yang terganggu kesehatannya itu karena terlalu bersemangat dalam beribadah. Kebanyakan mereka adalah jamaah lanjut usia (lansia). Walaupun demikian, secara umum kondisi jamaah dari Kota Kediri dalam kondisi bagus.


“Kami kawal dan kami rawat para jamaah untuk menjaga kesehatannya,” terang dr Fajri.


Fajri mengingatkan agar para jamaah menghemat tenaga. Sebab, ibadah wajib masih lama. Menurutnya, suasana Masjidil Haram yang ramai seperti sekarang ini, membuat hasrat beribadah sangat tinggi. Sayangnya, kadang jamaah tak memerhatikan kondisi fisik dan kesehatannya. Apalagi, hotel untuk jamaah Kota Kediri sangat dekat dengan masjid. Hanya 500-an meter saja.


Masih menurut Fajri, tim kesehatan Kloter 53 membuka posko di lantai 4 hotel Grand At-Taiser selama 24 jam. Hal itu makin memudahkan jamaah yang ingin memeriksakan kesehatan. Sedangkan jamaah tersebar di lantai 4 dan 7.


Selain itu, tim kesehatan juga melakukan visitasi ke kamar-kamar jamaah. Terutama yang masuk golongan risiko tinggi (risti).


“Kami juga cek kesehatan dan tanya keluhan mereka,” ujar dokter yang juga kepala Puskesmas Mrican ini.


Saat visitasi, tim kesehatan mengimbau jamaah makan dan minum secara teratur. Khusus untuk minum mereka disarankan tak menunggu haus. Selain itu, jamaah diminta menggunakan pelindung diri bila beraktivitas di luar ruangan. Karena suhu di Tanah Suci mencapai 40 derajat Celsius.


“Kami imbau agar mereka mengurangi aktivitas fisik yang tidak perlu,” pungkas Fajri.


Sementara itu, dari jamaah Kabupaten Kediri, kemarin mereka mulai belusukan ke pasar-pasar hewan. Tujuannya mencari kambing untuk membayar dam haji tamatuk.


Seperti diketahui, mereka yang melakukan haji tamatuk dan qiran diwajibkan membayar dam nuzuk. Hampir seluruh jamaah haji dari Indonesia melaksanakan haji tamatu ini. Mereka harus menyembelih satu ekor kambing atau puasa selama 10 hari. Dengan ketentuan 3 hari puasa di Makkah dan 7 hari puasa saat tiba di tanah air. Namun hampir semua jamaah memilih menyembelih kambing.


“Untuk urusan dam kami menyerahkan ke jamaah masing-masing. Kami hanya memberikan rambu-rambu aturan menurut syariatnya bagaimana,” ujar Effendi Anwar, ketua Kloter 56 SUB, kloter jamaah haji dari Kabupaten Kediri.


Umumnya pelaksanaan dam nuzuk dilaksanakan oleh jamaah secara pribadi. Mereka bisa membayar dam lewat bank yang ditunjuk pemerintah Arab Saudi. Tahun ini pemerintah Arab Saudi mempermudah pembayaran dam tidak hanya lewat bank, tapi juga bisa membayar lewat kantor pos terdekat. Besarnya yang harus dibayar 400 sampai 500 real.


Tidak sedikit juga jamaah yang langsung pergi ke pasar hewan untuk membeli dan menyembelih kambing. Mereka yang tergabung dengan Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH) mayoritas melaksanakan dam nuzuk secara terkoordinir.


“Jamaah agar berhati-hati saat datang ke pasar hewan agar tidak tertipu. Kelompok kami sudah punya langganan pedagang yang terpercaya. Kami memilih dan menyaksikan sendiri proses penyembelihan. Tentu saja tidak semua jamaah bisa ikut. Diwakili ketua regu,” ujar KH Ahsinil Umam, ketua KBIH Islahul Ummah Kabupaten Kediri saat dihubungi Jawa Pos Radar Kediri lewat telepon.


Muaishim adalah pasar sekaligus tempat pemotongan hewan terbesar di Makkah. Lokasinya di dekat perkemahanan Mina, sekitar 8 km dari Masjidil Haram. Di salah satu lembah pegunungan Sur. Tempatnya luas dan modern. Tempat ini menjadi jujugan hampir semua jamaah haji mencari hewan sembelihan. Mulai dari kambing, sapi, bahkan unta.


“Tahun lalu kambing seberat 30 sampai 40 kilogram masih 400 real. Sekarang sudah 450 real. Kalau datang langsung ke pasar bisa mendapat harga 700 sampai 1.000 real,” ujar Gus Ahsin, sapaan KH Ahsinil Umam, yang juga pengurus Ponpes Al Islah Bandarkidul.


“Alhamdulillah lega sekali rasanya bisa menyaksikan langsung penyembelihan kambingnya. Kalau datang sendiri kesini mungkin tidak akan dapat harga segini,” ujar Yuli Krisdianto, Jamaat Asal Brenggolo, Plosoklaten yang juga ketua regu.


 

Editor : adi nugroho
#kediri #tanah #cuaca #kambing #makkah #haji