KEDIRI KABUPATEN – Warga Desa Wonorejo Trisulo, Kecamatan Plosoklaten yang terancam krisis air berharap dibangun sumur bor. Pasalnya, selama ini mereka masih memenuhi kebutuhan air bersihnya dari sumber air yang dialirkan melalui pipa-pipa ke pemukiman.
Aliran lewat pipa itu pun rawan macet bahkan putus lantaran wilayahnya rentan longsor. Informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Kediri menerangkan bahwa hampir setiap tahun krisis air terjadi di Wonorejo Trisulo. Terlebih di dua dusun teratas. Yaitu di Dusun Rejomulyo dan Pulerejo.
Tahun lalu, warganya mengalami krisis terparah. Mereka harus memanfaatkan air dari bantuan truk tangki yang dipasok selama seminggu lebih. Ini lantaran pipa diterjang banjir lahar dingin.
“Daerah kami memang langganan kesulitan air Mas. Terlebih seperti saat ini pipa-pipa kita terancam,” terang Sumarwan, 49, teknisi pipa masyarakat Wonorejo Trisulo.
Menurut Marwan, kondisi kesulitan air ini sudah sejak 2006. Itu sebelum pipa-pipa air dipasang untuk mengambil air dari Sumber Clangap di lereng Gunung Kelud. Jaraknya dari pemukiman warga sekitar 8 kilometer (km). “Adanya pipa ini cukup membantu daripada sebelumnya tak ada. Dulu kita ya sangat berat mendapatkan air,” ujarnya.
Pipa air terdekat ada di Desa Sepawon, di atas Desa Wonorejo Trisulo. Mulai pagi hingga sore tidak jarang warga dua dusun di Desa Trisulo antre air dengan membawa jeriken-jeriken.
Mereka pun harus bergantian dengan warga Desa Sepawon karena memang pipa tersebut hak mereka. “Jadi kalau mereka (warga Sepawon, Red) selesai ambil air. Baru kita bisa ambil. Tidak jarang kita lebih mentingin air daripada kerja di ladang,” aku Marwan.
Walaupun begitu, tetap saja langganan krisis air tetap tidak terhindarkan di musim hujan yang rawan bencana dan merusak pipa mereka. Sehingga warga pun memaklumi dengan macetnya air yang kerap terjadi. Namun warga berharap, realisasi rencana pembangunan sumur bor yang akan dilakukan 2018 segera dilaksanakan.
Hal ini akan cukup membantu kebutuhan air mereka agar tidak terganggu saat musim hujan ini. “Rencananya tahun 2018 akan ada pembangunan sumur bur di Rejomulyo. Nanti airnya bisa ditandon dan digunakan warga dua dusun ini,” terangnya.
Dengan kerusakan pipa akibat diterjang longsor Jumat lalu (1/12). Marwan bersyukur masih bisa diperbaiki dalam waktu tiga hari sudah lancar lagi. Karena kerusakan hanya mengganti sekitar 5 meter pipa baru karena patah. Sehingga masih bisa diatasi oleh khas masyarakat pengguna air sumber saja. “Untung masih hanya lima meter Mas. Kalau sampai kayak tahun lalu yang rusak hingga 2 kilometer pasti kita bengok-bengok,” ujar pria berkumis ini.
Karena, menurut Marwan, maksimal dana kas yang terkumpul dari warga dua dusun yang menggunakan air dari pipa Sumber Clangap pun terbatas. Dia mengalkulasikan bisa mereka tangani sendiri jika kerusakan pipa tidak sampai mengganti pipa baru sepanjang 500 meter.
“Kalau sampai lebih dari itu kita pasti tidak bisa tangani sendiri. Kita biasanya minta bantuan ke BPBD Kabupaten Kediri atau Gudang Garam,” tegas Marwan.
Editor : adi nugroho