Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Kasus Difteri di Nganjuk

adi nugroho • Jumat, 22 September 2017 | 17:00 WIB
kasus-difteri-di-nganjuk
kasus-difteri-di-nganjuk


NGANJUK-Penyakit difteri harus jadi perhatian bersama. Rabu (20/9) lalu, Kabupaten Nganjuk ditetapkan berstatus kejadian luar biasa (KLB) difteri. Ini setelah Faliq Ubaydillah, balita asal Bojonegoro yang sempat tinggal di Desa Kapas, Kecamatan Sukomoro meninggal akibat penyakit yang menyerang organ pernafasan itu.


          Informasi yang dihimpun koran ini menyebutkan, Faliq dan keluarganya baru pindah dari Bojonegoro minggu lalu. Karena belum mendapatkan kontrakan, anak berusia tiga tahun itu menempati salah satu sekolah di Kapas, Sukomoro bersama orang tuanya.


          Beberapa hari berada di sana, Faliq menderita batuk, pilek, panas. Karena kondisinya tak kunjung membaik dia lantas dirujuk ke RSUD Nganjuk pada Kamis (14/9) untuk mendapat perawatan lanjutan. Tak hanya menderita batuk, pilek dan panas, belakangan Faliq juga menderita nyeri telan dan sesak nafas.


          Enam hari menjalani perawatan di RSUD Nganjuk, Faliq meninggal dunia Rabu (20/9) lalu. “Saat datang ke rumah sakit kondisinya sudah lemah. Minum saja kesulitan,” kata sumber koran ini.


Kasi Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Nganjuk S Kundariana yang dikonfirmasi tentang kasus Faliq membenarkannya. “Iya, ada satu pasien difteri meninggal,” kata perempuan yang akrab disapa Kun itu.


Dengan meninggalnya Faliq, Kun menyebut dinas kesehatan langsung mengirim specimen ke Balai Besar Laboratorium Kesehatan (BBLK) Surabaya. Hasilnya, Faliq positif terinfeksi diphteriae varian mitis toksigenik.


Setelah muncul kasus tersebut, dinkes langsung menyatakan KLB difteri. Menurut Kun, pihaknya langsung menginstruksikan Puskesmas Sukomoro untuk melakukan penyelidikan epidemologi awal di lingkungan tempat tinggal pasien.


Tidak hanya itu, petugas kesehatan di RSUD Nganjuk yang sempat menangani Faliq juga mendapat penanganan khusus. Sebanyak 23 petugas medis diminta meminum obat khusus untuk mencegah penularan. “Untuk orang yang kontak erat selama di rumah (Kapas, Sukomoro, Red) masih kami inventarisir,” terang Kun.


 Melihat riwayat Faliq yang baru pindah dari Bojonegoro, perempuan berjilbab itu menengarai balita itu terkena virus dari daerah asalnya. Apalagi, kasus difteri memang pernah ditemukan di Bojonegoro.


Lebih jauh Kun mengatakan, pihaknya sudah pernah diperingatkan oleh Dinkes Provinsi Jatim terkait penyakit difteri. Sebab, Nganjuk dekat dengan Bojonegoro dan Jombang. Di dua daerah tersebut sudah lebih dahulu ditemukan kasus difteri. “Ternyata sekarang (Rabu lalu, Red) ditemukan kasus difteri,” tandas Kun.


Dengan kasus meninggalnya Faliq, Kun meminta masyarakat untuk mewaspadai penyakit difteri. Dia meminta masyarakat segera mendatangi fasilitas kesehatan jika anak atau keluarganya sakit seperti ciri-ciri difteri. Yaitu, batuk, pilek, panas, nyeri telan dan sesak nafas.


Khusus untuk anak-anak, Kun meminta agar mereka diikutkan imunisasi lengkap. Sebab, berdasar PE yang dilakukan oleh Puskesmas Sukomoro, Faliq tidak pernah mendapat imunisasi sejak lahir. “Tidak pernah diimunisasi,” imbuh Kun.


Lalu, bagaimana dengan tindak lanjut kasus di lingkungan tempat tinggal Faliq? Ditanya demikian, Kun menyebut petugas tengah mendata jumlah orang yang kontak erat dengan Faliq. Selain itu, petugas puskesmas juga diminta mendata anak usia 1 hingga 15 tahun di Kecamatan Sukomoro.


Rencananya, Oktober nanti mereka akan diberi suntikan kekebalan kelompok. “Karena di sana baru saja divaksin MR (measles rubella, Red), suntikan kekebalan kelompok dilakukan Oktober nanti. Jeda minimal empat minggu,” terang Kun sembari menyebut pihaknya sudah berkoordinasi dengan Puskesmas Sukomoro terkait hal ini.

Editor : adi nugroho