Ibarat buku, kisah belasan musimnya bersama Persik Kediri sudah sangat tebal. Menjadikannya sangat berat untuk menutupnya. Namun, the show must go on, tim yang dia bela harus melakukan regenerasi.
EMILIA SUSANTI, Kota, JP Radar Kediri
Minggu sore itu (7/8) Stadion Brawijaya berlangit cerah. Angin juga berhembus tenang. Membuat ceria siapapun yang beraktivitas di stadion yang jadi home ground, kandang, klub sepak bola Persik Kediri itu. Terutama puluhan pemain sepak bola yang sedang beradu skill di lapangan hijau.
Laga itu memang bukan pertandingan resmi. Namun, atmosfir yang tercipta terasa istimewa. Nama-nama beken di sepak bola Kediri, bahkan nasional, adalah penyebabnya.
Ya, beberapa orang yang berlarian mengejar si kulit bulat itu relatif dikenal oleh publik bola Kediri. Ada Qischil Gandrum Mini, yang dulu pernah jadi striker andalan Persik.
Ada pula Obet Choiri, Sulis Budi, Mifta Huda, Jordan Zamorano, Taufiq, yang juga pernah berseragam ungu. Tak terkecuali sosok yang juga telah lekat dengan skuad Macan Putih, Faris Aditama.
Kesebelasan yang mereka lawan berisi barisan pemain muda. Penggawa yang diproyeksikan tampil di ajang Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jatim.
Laga itu terasa istimewa karena menjadi ‘pertandingan kehormatan’ bagi Faris Aditama. Mantan kapten Persik yang baru saja mengakhiri kebersamaan belasan musim bersama klub Kediri itu.
“Pastinya sangat berat. (Merasa) sedih juga. (Tapi) karena harus regenerasi kita harus beri kesempatan anak-anak muda agar berkembang,” ucap Faris, usai laga tuntas.
Sangat wajar yang dirasakan Faris. Apalagi, bila dibukukan, kisahnya bersama klub dengan jersey utama warna ungu ini memang tebal. Mulai musim 2010/2011 silam. Meski sempat pergi sebentar dia akhirnya kembali pada musim 2019/2020.
Musim itu sangat bersejarah. Tak hanya bagi Persik Kediri juga untuk Faris. Hanya bermodal barisan pemain muda, saat itu mereka sukses menjadi juara Liga 2, kompetisi kasta bawah yang sekarang bernama Championship.
Pijakan awal sebelum akhirnya klub pemilik dua gelar juara Liga Indonesia (Ligina) ini kembali ke kasta utama. Kasta kompetisi yang kini berlabel Super League.
“Itu paling berkesan dan spesial bagi saya,” kata pemain 38 tahun ini.
Kini, semuanya tinggal cerita. Faris sadar harus memberi kesempatan bagi para pemain muda di Persik Kediri. Toh, dia bisa membela tim lain. Di samping itu, bapak tiga anak itu juga telah mengambil lisensi kepelatihan.
Baca Juga: Persik Kediri Pulang dari Solo, Marcos Masih Cari Komposisi Terbaik
"Kelanjutannya masih ingin bermain, seenggaknya dua tahun lagi. Ya nanti habis itu juga pengen ngelatih juga," beber pemain yang mengidolakan Cristiano Ronaldo tersebut.
Terbaru, Faris mengaku sudah melakukan komunikasi dengan sebuah tim. Namun, komunikasi itu belum berlanjut lagi. Sehingga, dirinya saat ini masih 'menganggur' dari lapangan hijau. "Masih mencari," akunya.
Terlepas dari itu, bapak tiga anak itu mengucap terima kasih terhadap rekan-rekannya yang selalu memberi dukungan dan semangat kepadanya.
Baginya, laga persahabatan yang diinisiasi oleh para mantan pemain tersebut juga menjadi sebuah ajang silaturahmi. Dia berharap para mantan pemain selalu kompak.
"Senang ya bisa bermain sama-sama teman eks-Persik Kediri. Semoga setiap tahunnya bisa diadakan seperti ini lagi," inginnya.
Lebih dari itu, bermain dengan para pemain muda di Kediri juga menjadi momen istimewa bagi Faris. Walaupun hanya bermain satu babak, yang durasinya pun hanya 30 menit. Dia melihat pemain Kediri punya potensi besar. Berpeluang membela Persik Kediri.
"Untuk adik-adik harus berlatih giat sampai nanti bisa bermain di Persik Kediri, tim kebanggaan Kota Kediri. Dan nanti bisa bermain untuk timnas Indonesia juga," pesannya.
Sebenarnya, banyak lagi eks-pemain Persik yang dijadwalkan datang dan ikut bermain. Ada nama Eka Sama Adi, Galih Akbar, Fatchul Ichya, hingga Danny Saputra. Sayang, kesibukan yang bersamaan membuat mereka gagal datang.
"Mereka sebetulnya ikut semua. Sudah mengosongkan jadwalnya demi laga persahabatan ini. Tapi kan karena jadwalnya mundur dari Sabtu ke Minggu, akhirnya pada nggak bisa," jelas Qischil, koordinator laga.
Menariknya, ada anak mantan pemain Persik yang akhirnya menggantikan peran sang ayah. Seperti putra Andi Sidarta, Guntur, Taufiq, hingga Khusnul Yuli. Ini juga bentuk dari estafet DNA Persik.
Baca Juga: Andhika Ramadhani Bidik Kiper Utama Persik Kediri, Modal Tujuh Kali Cleansheet
"Semoga harapan kami bisa jadi penerus. Jadi pemain Persik seperti ayah-ayahnya," mimpinya.
Sementara, pemilihan lawan juga mengandung niat terselubung. Ada alasan khusus kenapa memilih tim yang diproyeksikan untuk porprov sebagai lawan. Qischil menyebut, para pemain senior ingin memberi motivasi kepada pemain muda.
"Harapan kami ini akan menjadi pemain Persik beberapa tahun kedepan. Jadi regenerasi itu terus, inginnya kami Persik Kediri akan berprestasi dengan anak-anak Kediri," tandasnya. (fud)
Editor : Andhika Attar Anindita