KEDIRI, JP Radar Kediri- Kompetisi di Super League kian memanas jelang akhir musim. Hasil pertandingan kerap menimbulkan tanda tanya.
Pun banyak spekulasi yang berseliweran. Salah perbincangan panasnya terkait sang pengadil lapangan.
“Saya baru di liga ini, ada yang memberi saran kepada saya untuk hati-hati terhadap wasit menjelang akhir kompetisi,” kata Head Coach Persik Kediri Marcos Reina Torres.
Pada laga kontra PSM Makassar, dia merasa timnya dirugikan oleh keputusan sang pengadil lapangan.
Yakni terhadap Muhammad Tri Santoso yang bertugas sebagai wasit utama.
Baca Juga: Fullback Persik Kediri Vava Mario Ingin Segera Move On usai Kalah dari PSM Makassar
Menurutnya, tim lawan tidak seharusnya mendapat peluang penalti atas pelanggaran yang dilakukan Muhamad Firli pada menit ke-31.
Dalam tayangan ulang, kontak pelanggaran antara Firli dan pemain Juku Eja memang terlihat ada di garis kota penalti.
Posisi Muhamad Firli masih di dalam kotak penalti. Sementara, Sheriddin, pemain Juku Eja, berada di luar kotak penalti.
Lalu, usai wasit Tri Santoso mengecek video assistant referee (VAR), dia memutuskan untuk mengganti peluang tendangan bebas menjadi tendangan penalti untuk PSM Makassar.
“Hari ini memang sangat serius, keputusan penalti pertama itu tidak bisa dipercaya. Harusnya tidak pernah jadi penalti. Saya rasa ada tendensi sejak awal pertandingan, saya sangat kecewa,” kata Marcos secara blak-blakan saat mengawali press conference pada Kamis (23/4).
Menurutnya, wasit di Super League harus berbenah. Apa yang dialami timnya tidak boleh terjadi lagi.
Hal ini sangat penting agar kompetisi berjalan dengan adil. Sehingga, kompetisi bisa kompetitif.
Baca Juga: PSM Makassar vs Persik Kediri: Kalah 3-1, Skuad Macan Putih Gagal Curi Poin
Sebelumnya, Marcos juga pernah mengeluhkan kepemimpinan wasit.
Tepatnya di laga kontra Bhayangkara Presisi Lampung FC (20/2) lalu.
Kala itu, Marcos Reina menilai bahwa Wahyu Subo Seto, pemain Bhayangkara FC, harus mendapat kartu kuning kedua.
Namun, Yudi Nurcahya, wasit yang bertugas di laga tersebut tak memberikannya.
“Jika Indonesia ingin memajukan kompetisi sepak bolanya, seharusnya tidak ada wasit seperti itu,” katanya saat itu.
Terlepas dari itu, pertarungan di Super League memang makin sengit.
Sebab, tim yang di zona degradasi masih terus berupaya untuk menyelamatkan diri.
Sementara, tim-tim papan atas juga terus bersaing untuk bisa naik ke puncak klasemen. Tak ayal, tensi kompetisi kian meninggi. (em/tar)
Editor : Andhika Attar Anindita