Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Penjualan Tiket Persik Kediri Tak Pernah Tembus 5 Ribu Lembar, Stadion Brawijaya Selalu Sepi

Emilia Susanti • Senin, 30 Maret 2026 | 14:10 WIB
Pemain Persik Kediri Jose Enrique.
Pemain Persik Kediri Jose Enrique.

 

KEDIRI, JP Radar Kediri- Stadion Brawijaya kerap lengang saat Persik Kediri menggelar laga kandang. Suasananya jauh berbeda dengan masa kejayaan Macan Putih di era 2000-an. Tidak penuh. Dan itu bukan semata-mata karena pihak kepolisian menerapkan kuota penonton di tribun. Melainkan karena antusias yang jelas-jelas menurun. Tiket terjual tak pernah tembus 5 ribu lembar.

Pada laga kandang terakhir menjamu PSBS Biak, tiket yang terjual hanya sebanyak 1.154 lembar. Padahal, sesuai hasil rapat koordinasi (rakor) dengan pihak kepolisian, tiket yang disedikan kurang lebih empat ribu tiket. Artinya, penjualan hanya sekitar 29 persen.

Ketua Panitia Pelaksana (Panpel) Persik Kediri Tri Widodo menekankan ada banyak parameter yang membuat penjualan tiket pertandingannya tidak bergairah. Menurutnya, sebab pertamanya karena semua pertandingan sudah ditayangkan secara live streaming. Ada yang ditayangkan di televisi dan di aplikasi. Selanjutnya, harga tiket juga turut menjadi pemicu sepinya penonton.

Panpel juga pernah mencoba menurunkan harga tiket menjadi Rp 35 ribu, Rp 50 ribu, dan Rp 65 ribu dalam tiga tier. “Tapi itu kan nggak jalan juga. Meskipun harganya Rp 35 ribu, pas lawan Semen Padang itu tiketnya yang terjual juga tidak sampai dua ribu," beber pria berkumis itu.

Baca Juga: Bos Persik Kediri Arthur Irawan Rindu Merumput bersama Macan Putih, Atasi Kangen dengan Nimbrung Sesi Latihan

Selanjutnya, Widodo menilai bahwa antusias penonton juga dipengaruhi oleh suatu momentum. Seperti kala tim akan menjadi juara atau sebaliknya. Analisanya cukup berdasar. Sebab, pertandingan Persib Bandung selalu saja mendapat antusias tinggi. Begitu pula dengan Persis Solo yang sempat berada dalam zona degradasi.

"Kemudian adalah tim yang baru promosi. Contoh penonton PSIM, penonton Persijap, karena mereka kan baru masuk setelah lama absen dari kasta tertinggi," lanjutnya menerangkan parameter yang membuat stadion kebanggan Kota Kediri sepi.

Karenanya, Widodo berharap Persik Kediri bisa tampil lebih baik di sisa laga dan musim depan. Tentunya dengan lebih banyak kemenangan. Jika tidak, antusiasnya tidak akan jauh berbeda. Pada akhirnya, panpel hanya bergantung pada pertandingan-pertandingan big match.

"Jadi kalau Persik menangan itu bisa jadi daya tarik tersendiri. Kalau kita amati kan pertandingan yang paling rame ditonton kan hanya lawan Solo, lawan Bandung, itu aja. Lawan PSIM yang seharusnya ada penonton, kita harus geser ke Gresik," jelentrehnya.

Oleh karenanya, persoalan pelik ini memang sulit untuk diselesaikan dalam jangka waktu yang pendek. Kendati demikian, manajemen Macan Putih tetap optimistis antusiasme suporter bisa meningkat. Bos Persik Kediri Arthur Daniel Irawan mengatakan bahwa pihaknya terus berupaya menjaga antusias suporter itu dengan menjalin hubungan baik dengan Persikmania.

Baginya, keberadaan suporter memang sangat penting bagi tim. Dia selalu menganggapnya sebagai pemain kedua belas Macan Putih. Bahkan dia menyebutkan bahwa kemenangan Persik Kediri tak lepas dari dukungan suporter di tribun. Tak kalah penting, Persikmania sudah seperti keluarga.

"Kami selalu komunikasi baik dengan suporter. Semoga di laga-laga selanjutnya bisa lebih full lagi," harapnya. (em/tar)

Editor : Andhika Attar Anindita
#persik kediri #psim #persijap #tiket #stadion brawijaya