KEDIRI, JP Radar Kediri– Stadion Brawijaya, Kota Kediri agaknya masih akan diselimuti kegelapan. Bukan lantaran cuaca mendung.
Namun karena lampu stadion yang belum maksimal. Bahkan, imbasnya Persik Kediri terpaksa kena tegur I.League selaku operator liga.
Mereka menyoroti kualitas penerangan di laga menjamu PSM Makassar pada Sabtu lalu (25/10). Pasalnya, cahaya lampu tidak merata ke seluruh lapangan. Hal ini dirasakan oleh siapapun yang menyaksikan langsung di tribun maupun layar kaca.
Ketua Panpel Persik Kediri Tri Widodo mengungkapkan pihak I.League telah menegurnya mengenai kondisi lampu.
Sebelum pertandingan, Widodo menyampaikan bahwa I.League telah menyarankan untuk memasang lampu pada tiang yang kosong. Alias belum terpasang lampu sama sekali.
Tepatnya yang berada di tenggara dan barat laut. Setelahnya, pria berkomunikasi dengan pihak vendor. Namun, vendor tidak sanggup karena hoist untuk mengangkat lampu tersebut sudah terpakai.
“Alatnya sudah tertancap di dua tower lainnya (tower di timur laut dan barat daya, red) dan proses untuk memindahkan alat itu membutuhkan waktu,” beber Widodo.
Oleh karenanya, panpel berusaha berkoordinasi dengan vendor agar memaksimalkan pemasangan lampu yang ada di tiang sisi timur laut dan barat daya.
Bila mulanya tiang yang berada di barat daya ada 15 lampu, pemasangan akhirnya bisa dimaksimalkan di 18 lampu. Sementara pada sisi timur laut yang semula sepuluh lampu menjadi 16 lampu.
“Tapi tetap timpang, nggak bisa merata. Dari televisi nggak elok. Jadi mohon maaf untuk semuanya yang kurang nyaman atas penyelenggaraan Persik Kediri melawan PSM Makassar. Mohon maaf yang sebesar-besarnya,” tekannya.
Walau pertandingan tetap berjalan sampai sang pengadil lapangan meniup peluitnya, panpel masih tetap waswas. Pasalnya, kondisi ini akan berpengaruh pada laga kandang selanjutnya.
Terlepas dari itu, Widodo juga menempuh cara-cara tradisional agar pertandingan pada Sabtu sore (25/10) tersebut berjalan lancar.
Tidak lain adalah dengan melibatkan pawang hujan. Tak tanggung-tanggung, dirinya memanggil tiga pawang hujan. Dua pawang dari Kediri dan satunya dari Tulungagung.
“Mulai Liga 2, saya kalau musim hujan selalu panggil pawang hujan. Boleh percaya boleh tidak, tetapi itulah yang dipakai nenek moyang kita,” tandas pria berkumis tersebut.
Editor : Andhika Attar Anindita