Di tangan Iwan, Persik sukses dua kali merengkuh juara Liga Indonesia di musim 2003 dan 2006.
Di mata pemain Persik, keberadaan pria 50 tahun itu bukan saja sebagai manajer tim. Tetapi juga motivator ulung.
Tak heran, banyak penggawa Macan Putih kala itu sangat segan dan takut dengan sosok Iwan Budianto. Salah satunya diakui oleh Wawan Widiantoro, mantan bek sayap Persik Kediri.
Menurut Wawan, Iwan Budianto adalah seorang manajer yang bisa merangkul semua pemain. Dia biasa mendengar keluhan pemain sebelum pertandingan.
"Mas Iwan akan tanya ke pemain. Kalau ada keluhan, pasti dia akan mendatangi ke kamar pemain satu-satu," kata Wawan mengenang kepemimpinan Iwan Budianto di Persik.
Saat berada di kamar itu, kata Wawan, pemain akan curhat ke Iwan. Termasuk masalah pribadi. "Piye kurang apa. Butuh pira (berapa)?" ungkap Wawan menirukan pertanyaan Iwan ke pemain ketika mereka mengalami masalah finansial.
Berapa pun yang dibutuhkan pemain, Iwan Budianto selalu memenuhinya. Dan, setelah pemberian itu, menurut Wawan, Iwan Budianto tidak pernah memotong gaji pemain.
"Itulah kenapa Mas Iwan sangat disegani pemain Persik. Ibaratnya, perintah A ya A. Atau, suruh nyemplung kali (masuk ke sungai), pemain pasti nyemplung," kata Wawan seraya terbahak.
Selain peduli, Wawan menyebut Iwan Budianto adalah sosok yang galak di ruang ganti pemain. Apalagi Persik Kediri bermain di Stadion Brawijaya ketika kedudukan masih draw atau kalah di babak pertama.
"Duh Mas Iwan pasti ngamuk. Jedak..jedak..jedak... Itu biasa Aqua (air mineral) melayang di ruang ganti," ucap pria asal Betet, Kota Kediri ini.
Bagi pemain, kegalakan Iwan Budianto di ruang ganti pemain justru jadi motivasi. Karena itu, di babak kedua, Persik sering unggul dan bisa membalikkan keadaan.
"Mas Iwan itu biasa misuhi (mengumpat) pemain. Tapi, setelah pertandingan selesai, ya selesai. Ajak makan-makan pemain," ucap Wawan.
"Saya akui, cara motivasi Mas Iwan sebagai manajer memang kelas," imbuhnya.
Wawan mengakui pernah mengalami sendiri bagaimana perkataan Iwan Budianto saat itu wajib dituruti. Pada 2004, pemain yang identik dengan lengan jersey dilipat ini pernah menerima panggilan training center (TC) Timnas Indonesia pra piala dunia asuhan Ivan Kolev.
Saat itu, Iwan Budianto menelepon Wawan agar pulang dan membela Persik menghadapi Seongnam Ilhwa, klub Korea Selatan, di Liga Champions Asia. "Saya disuruh meninggalkan pemusatan latihan. Katanya, lah sesok sing main sopo Le (Besok siapa yang main)," kata Wawan.
Wawan pun menuruti perintah bosnya tersebut. Padahal, kesempatan bermain di timnas saat itu sangat terbuka lebar.
"Akhirnya sampai sekarang saya tidak pernah bermain untuk timnas," kata Wawan mengenang pengalamannya dengan Iwan Budianto.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah