Divaldo Alves berbincang santai dengan Imam, penjaga mess Persik. Sembari menyeduh kopi hitam, Alves beberapa kali mengeluarkan kosa kata dalam bahasa Arab. Termasuk memberikan salam sesaat hendak keluar dari pintu mess. Menuju Stadion Brawijaya, tempat dia memimpin latihan Persik.
Alves mengatakan bahwa dirinya bisa berbahasa Arab karena pernah melatih di Qatar dan Oman. Tidak sebentar, di dua negara itu pelatih asal Portugal ini bekerja selamaa empat tahun. Wajar bila akhirnya dia juga mahir berbahasa negara itu.
Bagi Alves, belajar bahasa tempatnya melatih adalah satu keharusan. Meskipun pihak klub juga menyediakan penerjemah.
“Saya harus tetap bisa berbahasa mereka. Karena komunikasi adalah hal yang penting juga. Belajar dan berlatih (bahasa) dengan asisten pelatih dan pemain,” aku Alves.
Dia mengatakan bahwa dalam dunia sepak bola, keterbatasan bahasa tak selalu menjadi kendala. Bahkan, prioritas mendalami bahasa bukan keharusan. Sebab, gestur tubuh bisa menjadi sarana komunikasi di dunia sepak bola.
Namun, Alves sepertinya menjunjung tinggi peribahasa ‘di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung”. Ia pun tetap ingin berlatih bahasa Arab selama melatih klub dari negara berbasis bahasa Arab itu.
Sama dengan Bahasa Indonesia, Alves mengaku sudah belajar sejak melatih di PSMS Medan. Dari tim junior hingga senior pada 2008 silam.
“Kalau dibilang lancar, tidak juga. Saya sudah lama tidak ke Indonesia lagi sejak 2010. Dua tahun saya berlatih. Ya, seperti ini hasilnya. Masih agak sedikit-sedikit yang salah,” kata Alves dengan dialek dan pengucapan yang terus membaik.
Berdasarkan curiculum vitae (CV) Alves sebagai pelatih, ia sempat menjadi arsitek tim benua biru, tepatnya di Lithuania. Di sana, ia juga sempat mencoba belajar bahasa. Namun ia mengaku tidak sefasih bahasa lain yang ia pelajari.
Total ada enam bahasa yang ia kuasai selain bahasa tanah kelahirannya. Mulai dari bahasa Portugis, Spanyol, Italia, Rumania, Lithuania, Arab, hingga Indonesia.
“Satu bulan jeda libur latihan saya buat untuk belajar bahasa Mandarin dan Rusia,” kata Alves tersenyum.
Baginya, komunikasi adalah kunci dalam kehidupan. Hal tersebut yang ingin ia aplikasikan selama melatih Persik. Komunikasi dengan pemain adalah salah satu kunci untuk membangun mental para pemain. Editor : Anwar Bahar Basalamah