Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Usai Latihan, Nyambi Urusi Bisnis Laundry

Anwar Bahar Basalamah • Senin, 7 November 2022 | 23:05 WIB
HARAPAN KELUARGA: M. Taufiq saat me- ngantar anaknya, Desta, latihan sepak bola di Lapangan Bangsal,Kecamatan Pesantren. (Foto: Iqbal Syahroni)
HARAPAN KELUARGA: M. Taufiq saat me- ngantar anaknya, Desta, latihan sepak bola di Lapangan Bangsal,Kecamatan Pesantren. (Foto: Iqbal Syahroni)
Bagi para pemain Persik ini, libur latihan berarti membuat waktu mereka bersama keluarga semakin bertambah. Namun, saat ini menjadi kehilangan maknanya. Sebab, nasib kompetisi juga belum punya kejelasan.

Bagi M. Taufiq, waktu libur berarti dua hal. Intensitas latihan bersama menurun. Sementara waktu di rumah meningkat. Karena itulah, pemain senior ini ingin mengambil sisi positif dari dua hal itu.

Sebagai pemain sepak bola, berlatih mandiri-di rumah-terasa lebih berat. Mereka harus mengontrol diri sendiri. Komunikasi dengan pelatih tentu terbatas. Karena hanya melalui chat ataupun video call. “Kadang harus menjelaskan dua hingga tiga kali. Beda kalau bertemu langsung,” aku pemain 35 tahun ini.

Berlatih sendiri bukan pengalaman pertama baginya. Saat Liga 1 terhenti di awal pandemi, dia juga merasakan hal serupa. Bedanya, saat itu dia masih berseragam Bali United.

Bagaimanapun, Taufiq ingin memanfaatkan jeda ini sebaik-baiknya. Selain tetap berlatih dan menjaga kondisi, dia berusaha lebih dekat dengan keluarga. Terutama dengan anaknya yang masih usia SD dan PAUD.

“Desta (anak Taufiq, Red), biasanya pulang sekolah minta nendang-nendang bola saja di rumah,” akunya.

Selama ini hal itu jarang terjadi. Sebab, siang hingga sore dia harus melahap program latihan di Stadion Brawijaya. Sementara, Sabtu dan Minggu juga sering menjadi hari pertandingan.

“Bila anak sudah besar nanti, mungkin lebih sering bermain dengan teman-teman sebayanya. Karena itu saya juga ingin memanfaatkan waktu walau sedikit ini dengan anak-anak,” imbuh gelandang bertahan ini.

Beda lagi dengan Dany Saputra. Bisnis laundry yang sudah ia jalankan selama hampir tiga tahun menjadi sampingannya ketika latihan bersama berhenti lebih dari satu bulan.

Tentu dia tak melupakan latihan mandiri. Sesuai progam yang diberikan tim pelatih. “Pagi biasanya saya fokuskan untuk latihan, selesaikan program latihan, dan laporan ke pelatih via aplikasi online,” terangnya.

Siang hari? Lelaki yang tinggal di Kelurahan Pojok, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri ini harus berkendara 10 kilometer dari rumahnya. Tujuannya, dua tempat laundry miliknya. Di Kelurahan Bandarlor, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri dan di Desa Doko, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Kediri. Melakukan maintenance sehari-hari. “Biasanya istri saja. Karena ini juga libur, saya ikut ngecek laundry juga,” ujar lelaki kelahiran 1991 itu.

Dany mulai merintis usahanya ini setelah pulang dari Jakarta. Ilmu jasa cuci itu dia peroleh ketika masih berseragam Persija Jakarta.

“Dulu, pas masih di Jakarta, ada (pengusaha) laundry yang sering ngobrol. Memang dari dulu ingin punya usaha jasa,” akunya.

Awalnya ia ingin usaha potong rambut. Tapi, karena dia tidak pandai potong rambut, niat itu dia urungkan.

Dalam bisns laundry, awalnya dia juga tidak jago. Lama-lama, akhirnya mulai menguasai. Jasa pencucian pertamanya adalah yang di Kelurahan Bandarlor. “Lama-lama saya paham, kalau noda ini, pakai sabun ini bagus. Kalau yang warna putih direndamnya berapa menit. Semua saya ketahui ya karena belajar sendiri,” ungkap bapak satu anak itu.

Sementara, kiper muda Djiwa Herlando menggambar adalah salah satu hobinya dari kecil. Makanya, selama berada di Mess Persik kala libur, lebih banyak ia gunakan untuk menggambar.

“Menggambar ya sama dengan belajar,” aku pemain yang masih duduk di bangku SMK bidang animasi ini.

Remaja 18 tahun kelahiran Jakarta Barat itu menambahkan, setelah jatah berlatih dia selesaikan, kemudian beristirahat sekitar seperempat jam. Nah, bila suntuk, dia bangun dan menyalakan komputer. Menggambar sekaligus belajar.

Ada  lagi kesibukannya yang belum tuntas. Mengurusi kepindahan dari SMK di Jakarta ke Kediri. “Saya carinya yang tidak perlu lintas jurusan. Yang ada jurusan animasinya,” ujar Djiwa.

Anak pertama tiga bersaudara ini mengatakan, selama ini dia memang bercita-cita menjadi pemain sepak bola. Namun, dia juga ingin sekolahnya berlanjut.

Karena itu dia tak pulang ke Jakarta seperti pemain sedaerahnya. Ia ingin fokus berlatih dan belajar di Kediri. “Kalau di rumah terlalu bising. Karena, ya, di Jakarta. Di Kediri, kotanya ini tenang, suasana belajar jadi lebih fokus,” akunya.

Sesekali, Djiwa juga menghubungi Dikri Yusron. Kadang ia ingin ikut berlatih bersama dengan kompatriot penjaga gawang Macan Putih itu. Mengingat Adi Satryo, dan Kartika Ajie yang sudah pulang ke rumah mereka lebih dulu. “Sempat dulu berlatih bersama mas Dikri. Kadang, ya menjalankan program bareng,” ujar Djiwa.

Selain kegiatannya berlatih, Djiwa juga tak berbeda dengan remaja lelaki pada umumnya. Ia juga menikmati menonton anime (kartun produksi Jepang). Namun itu ia lakukan ketika dirinya sudah selesai dengan berlatih, dan belajar. “Sekarang sedang menunggu episode Chainsaw-Man terbaru,” kata Djiwa tertawa. Editor : Anwar Bahar Basalamah
#radar kediri #seputar kabar kediri #kediri hari ini #seputar info kediri #info kediri lagi #persik kediri #seputar sepakbola #persik #kediri terbaru #kediri lagi #seputar berita hari ini #jadwal persik kediri #update kediri #kediri news #kediri terkini #seputar kabar kediri terbaru