Performanya terbilang cukup bagus. Tak hanya satu gol yang dicetaknya kala bersua Persikabo 1973 (12/6), tapi juga kontribusinya selama pertandingan. Don Joan kerap turun dan membantu distribusi bola. Bahkan di pertandingan kedua Grup D melawan Arema FC, pria 26 tahun asal Brasil ini dimainkan di sayap. Ternyata, kemampuan Don Joan sebagai kreator sama baiknya saat dia diposisikan sebagai finisher. Hanya melihat kebutuhan Persik, jebolan Sao Paulo FC ini lebih pas dipasang sebagai bomber di tengah.
Tak heran pemain berjuluk El Maestro ini sempat menjadi pemain terbaik liga tahun 2019. Gayanya elegan. Kaki kirinya sangat berbahaya. Baik ketika memberi umpan atau berusaha mencetak gol. Visi kompatriot Joanderson dan Arthur Felix ini juga begitu luar biasa. Profil yang akan menjadi otak permainan Macan Putih musim ini. Ditunjang skema tiga gelandang ala Roca, Renan bisa bergerak bebas membantu sektor penyerangan.
Sebagai gelandang bertahan pemain asal Nepal ini jelas punya segalanya. Fisik yang kuat hingga kemampuannya berduel satu lawan satu. Kemampuannya mengcover area juga istimewa. Hanya stamina tampaknya masih menjadi kendala. Dia terlihat keteteran di menit-menit akhir saat diturunkan dalam laga pra musim. Hal ini karena pria 30 tahun ini baru bergabung di akhir pemusatan latihan Persik. Namun Roca percaya seiring berjalannya waktu, performanya akan membaik.
Dibanding pemain asing lain, bek berusia 32 tahun ini bisa dibilang paling siap. Dia tak butuh adaptasi karena sejak musim lalu bersama Persik. Performanya memukau. Sapuan, tekel, hingga headingnya benar-benar dapat diandalkan. Lini belakang Persik bergantung padanya. Dia pun selalu terpilih menjadi starter saat pra musim. Pemain bertinggi 190 sentimeter sulit tergantikan. Apalagi jiwa kepemimpinannya juga tinggi. Dalam beberapa kesempatan, Arthur pun dipercaya sebagai kapten Persik. Editor : Anwar Bahar Basalamah