Tangan dingin Budiardjo Thalib sebagai pelatih terbukti bertuah. Total ada 7 klub yang diasuhnya jadi juara. Lima di antaranya, termasuk Persik Kediri, mampu naik ke kasta kompetisi lebih tinggi. Dia memang spesialis pembawa klub promosi.
Sejarah kepelatihan Budiardjo Thalib sangat panjang. Sudah 14 tahun Budi –panggilan akrabnya– meniti karir sebagai peramu strategi klub sepak bola di Indonesia. Sejak gantung sepatu dari lapangan hijau di Persid Jember pada 2002, tiga tahun berselang dia menjadi pelatih kali pertama di PSM Makassar U-15.
Sampai saat ini, total ada 14 klub yang sudah ditukangi. Jumlah itu di luar dua klub Liga 1. Pasalnya, di PSM dan Persipura, pria kelahiran 4 Juli 1970 ini hanya menjadi asisten pelatih.
Sebagai arsitek tim, Budi termasuk pelatih berprestasi. Total ada 7 klub yang pernah diantarkan ke tangga juara. Lima di antaranya promosi ke kompetisi di atasnya. Termasuk Persik yang baru saja menjadi kampiun Liga 2 musim ini.
Adapun, dua klub lain tercatat sukses menjuarai turnamen sepak bola. Yakni Persim Maros di turnamen Piala Habibie tahun 2011 dan Panasonic U-12 di Piala Danone tahun 2012. Untuk lima klub yang dibawa promosi, selain Persik, ada Persiko Kotabaru, Perssin Sinjai, Cilegon United, dan Perssu Sumenep.
Soal prestasi tersebut, Budi mengakui banyak menyerap ilmu dari para seniornya. Sebut saja pelatih panutannya adalah Rahmad Darmawan dan Iwan Setiawan. “Dari coach RD (Rahmad Darmawan) saya meniru ketenangannya. Dan komunikasi yang baik ke pemain,” kata Budi saat ditemui di Mes Persik di Jl PK Bangsa, Jumat pekan lalu (29/12).
Sementara dari Iwan, Budi memuji kecerdasan mantan arsitek Persebaya dan Borneo FC itu. Dari dua pelatih tersebut, pria kelahiran Makassar ini mempelajari dan mengolaborasi dengan karakternya. “Saya serap dan saya improvisasi sendiri,” ujarnya.
Budi mengaku, bukan tipe pelatih yang menerapkan banyak aturan kepada pemainnya. Menurutnya, hal itu justru akan membuat jarak dengan anak asuhnya. Perannya, selain pelatih, dia memposisikan sebagai bapak dan orang tua. Itu sudah dilakukan sejak menukangi klub junior maupun Persik di Liga 2.
Dengan cara tersebut, dia mengaku, lebih mengenal karakter pemainnya. Apalagi saat menukangi skuad Macan Putih, Budi berada satu atap dengan beberapa pemainnya yang berasal dari luar Kediri. “Kami tinggal di mes,” ucapnya.
Di luar lapangan, Budi mengaku, pemain kerap curhat pada dirinya. Baik soal strategi permainan sepak bola atau masalah pribadi, seperti asmara dan keluarga. “Karena saya memposisikan sebagai bapak, mereka tidak canggung,” kata pria yang semasa bermain berposisi sebagai gelandang ini.
Namun di lapangan, jangan tanya soal ketegasannya. Budi bukan termasuk pelatih yang suka menganakemaskan pemainnya. Baginya, semua pemain sama. Siapa yang paling siap akan dimainkan dalam setiap laga. “Saya akan berbeda di dalam dan luar (lapangan). Di luar, saya bisa bercanda dan tertawa dengan pemain,” ucapnya.
Karakter ini yang terus di bawanya di manapun melatih. Semula, di Persik Kediri, Budi merupakan pelatih yang didatangkan setelah tim terbentuk. Saat itu, ia menggantikan Nasal Mustofa sebelum Liga 2 Indonesia bergulir. “Jadi ketika saya datang, tim sudah terbentuk. Pemain sudah dikontrak,” ujarnya.
Karena itulah, Budi tidak bisa mengutak-atik kebutuhan tim. Meski demikian, dia percaya dengan kekuatan skuadnya. Apalagi, sebagian besar diisi para penggawa muda. “Kami memiliki pemain muda potensial,” imbuhnya.
Di awal musim, manajemen hanya mematok target bertahan di Liga 2. Hal itu lumrah. Pasalnya, musim ini sebenarnya Persik merupakan tim promosi dari Liga 3. Target tersebut jelas tidak membebani sang arsitek. Namun setelah menumbangkan PSBS Biak 4-0 di laga pembuka, Budi semakin yakin dengan skuadnya. “Setelah itu, kami berani pasang target lolos ke Liga 1,” tandas pria yang pernah bermain di PSIS Semarang ini.
Akhirnya, target promosi yang dicanangkan saat kompetisi berjalan membuah hasil. Bahkan, Persik tidak hanya promosi, tetapi mampu membawa pulang trofi Liga 2 ke Kediri. “Di semifinal, kami semakin optimistis menjadi juara. Dan, target itu bisa diwujudkan,” terangnya.
Sayang, Budi terancam tidak bisa menukangi Persik di Liga 1. Dia terhalang masalah lisensi kepelatihan. Saat ini, lisensinya B AFC. Sementara di Liga 1, setiap pelatih wajib berlisensi A Pro atau A AFC.”Saya akan menaikkan lisensi,” katanya.
Ritual Telepon sebelum dan sesudah Laga
Peran keluarga sangat penting bagi Budiardjo Thalib. Meski tidak membantu secara teknis, dukungan yang diberikan bisa memberikan motivasi tambahan. Karena itulah, Budi selalu punya rutinitas menelepon Rahmaningsih, sang istri, sebelum dan setelah laga.
Sebagai pelatih profesional, Budi kerap berpindah-pindah kota. Tergantung klub mana yang dilatihnya. Namun, dia memutuskan tidak memboyong keluarganya ke kota di mana timnya bermukim. “Istri dan anak-anak tetap tinggal di Makassar,” ujarnya.
Meski berjarak, Budi selalu menjalin komunikasi dengan istri dan ketiga anaknya. Dia memiliki semacam ritual yang tidak boleh ditinggalkan sebelum pertandingan maupun setelah laga usai. “Saya pasti telepon ke rumah (Makassar),” ungkapnya.
Sebelum laga, Budi biasanya mulai menelepon sang istri pagi. Saat itu, biasanya dia masih berada di hotel ketika away. Atau berada di mes saat pertandingan digelar di kandang.
“Setelah pertandingan selesai, kembali ke hotel, saya telepon lagi. Biasanya setelah Magrib,” ucap pelatih 49 tahun ini.
Rutinitas telepon keluarga memang cukup dilakukan dua kali sehari. Sebab, sepanjang pertandingan berlangsung, Budi akan mematikan telepon seluler (ponsel)-nya. “Saya harus fokus ke pertandingan. Tidak ingin ada gangguan selama pertandingan berlangsung. Saya pasti matikan (HP),” ungkapnya.
Begitu pertandingan berakhir, Budi baru menyalakan kembali ponselnya. Saat menelepon tersebut, dia selalu meminta doa dan dukungan dari keluarga. Termasuk dari putra dan putrinya. “Bisa mendengar suara mereka (anak-anak) menambah semangat saya,” akunya.
Budi mengakui, dukungan keluarga sangat membantunya secara psikologis. Ketika menang, kebahagiaan itu akan dibagikan ke keluarganya. Namun ketika kalah, support keluarga dapat memulihkan kekecewaan secepatnya. Sehingga, Budi bisa segera bangkit.
Di laga final Liga 2 Indonesia melawan Persita di Stadion Kapten I Wayan Dipta, Gianyar, Bali, Senin lalu (25/11), Budi sengaja memboyong dua anaknya. Keduanya adalah Andini Marsanda Ramadani, 18, dan Aditya Futsal Ramadani, 16. “Mereka ikut menonton di stadion,” ungkapnya.
Sedangkan sang istri tetap berada di Makassar. Pasalnya, istrinya harus mengasuh putri ketiganya, Airin Fiza yang masih berusia dua tahun. “Tidak bisa ke Bali, karena masih terlalu kecil (anak ketiga),” paparnya.
Setelah laga tersebut yang dimenangkan Persik dengan skor 3-2, Andini dan Aditya ikut merayakan kemenangan bersama sang bapak dan pemain di lapangan. Bahkan, mereka berfoto sembari membawa trofi Liga 2. “Senang rasanya anak-anak bisa melihat langsung,” pungkasnya.
Tentang Budiardjo Thalib
Karir Pemain
Klub Tahun
PSM Junior 1989
Pra PON Sulsel 1991
PSIS Semarang 1992
Persibat Batang 1993
PSIR Rembang 1995
Persiku Kudus 1998
Maritex Pekalongan 1998-1999
Persid Jember 2002
Timnas Futsal 2003-2004
Karir Pelatih
Klub Tahun
PSM U-15 2005
PSM U-18 2006
Persipare Pare-Pare 2006-2008
Persiko Kotabaru 2009
Perssin Sinjai 2010
Persim Maros 2011-2012
Panasonic Makassar 2012
Perssin Sinjai 2013
Bontang FC 2013
Perssu Sumenep 2014
Diklat PPLP Makassar 2015
Asisten Pelatih PSM 2016
Porprov Barru Sulsel 2017
Asisten Pelatih Persipura 2018-2019
Persik 2019
Editor : adi nugroho