“Mengurus sapi itu menyenangkan,” ungkapnya. Pria kelahitan 27 Maret 1997 mengaku beternak adalah aktivitas yang dia lakukan jika tidak sedang bertanding atau latihan. Mulai dari membersihkan kandang, memberi makan, hingga sesekali melakukan jual-beli sapi di pasar. Hal itu lanjut Khanafi membuatnya melupakan sejenak rutinitasnya di lapangan. Rasa capek hilang, yang ada jutru bahagia.
Sayang, hobi itu tak bisa dilakukan lagi beberapa waktu ini. Khanafi memutuskan untuk mengosongkan kandangnya. Sapi yang biasanya dia pelihara, kini tak ada lagi yang tersisa. “Semingguan terakhir kandang sudah kosong. Dijual semua,” ujar warga Desa Sambi, Kecamatan Ringinrejo ini.
Khanafi mengaku menjual semua sapinya begitu tahu ada wabah penyakit mulut dan kuku (PMK) yang merebak di mana-mana. Dia takut sapinya terkena wabah itu. “Pasti harganya akan turun, hancur-hancuran,” ungkapnya.
Dibanding sapi yang sehat, Khanafi mengatakan harga sapi dengan penyakit seperti itu pasti akan jatuh. Apalagi sapi limosin dan simental yang dia pelihara punya segmentasi pasar khusus. Sapi dengan bobot nyaris satu ton ini biasanya diburu untuk kurban. Padahal Hari Raya Idul Adha masih sebulan lagi. “Mungkin nanti kalau situasinya membaik baru pelihara lagi,” beber bungsu tiga bersaudara ini.
Bagi pemain sepak bola profesional seperti Khanafi, punya hobi yang menghasilkan seperti beternak sapi memang penting. Ibaratnya, hasil yang didapat bisa ditabung dalam bentuk ternak. Sebelum nantinya dijual dan bisa menguntungkan untuk menunjang ekonomi keluarga.
Khanafi sendiri musim ini memutuskan bertahan di Persedikab Kediri. Baginya, target untuk membawa Persedikab promosi ke Liga 2 belum tuntas dia tunaikan. Tahun lalu, meski dia memberikan performa cukup baik dengan 11 gol, skuad Bledug Kelud harus tertahan di babak 16 besar. Musim ini, hal itulah yang jadi fokus Khanafi. Dia ingin lebih baik, secara tim maupun individu. “Tentu saya ingin menjadi top skor tim lagi,” sambungnya.
Secara tim, Khanafi yakin bahwa dengan keputusan manajemen untuk memprioritaskan putra daerah skuad akan semakin solid. Kendati banyak pemain baru, proses adaptasi bisa lebih mudah dengan mayoritas pemain yang berasal dari Kediri. (syi/die) Editor : Anwar Bahar Basalamah