JP RADAR KEDIRI- Sumarni tengah berbincang dengan beberapa tetangganya Senin lalu (25/11). Obrolan mereka tetap gayeng meski baru saja terjaga semalaman.
Saluran air selebar 1,5 meter di depan rumahnya itu meluap akibat hujan deras yang mengguyur sore hari sebelumnya.
Meski tepi saluran air itu sudah dibangun pembatas setinggi sekitar 50 sentimeter, air tetap meluber hingga ke jalan di depan rumahnya. Waswas air semakin tinggi, dia dan warga lainnya di lingkungan RT 5 Kelurahan Ngampel, Mojoroto, itu berjaga semalaman.
“Di sini langganan (banjir, Red). Ini untungnya nggak sampai masuk rumah, yang tahun lalu sampai masuk rumah,” kenangnya.
Maklum saja, saluran air itu kerap mendapat air kiriman dari hulunya di lereng Gunung Wilis. Limpahan air yang datang itu juga membawa serta sampah-sampah. Mulai dari sampah rumah tangga, hingga rumput dan ranting-ranting.
“Ini kan sekitarnya sawah. Kadang orang membersihkan rumput, terus ditaruh di perengan (tepi, Red) sungai. Akhirnya kebawa air terus nyangkut di sini,” terang perempuan 59 tahun itu.
Banjir karena saluran air yang tersumbat sampah itu memang kerap terjadi di beberapa titik di Kota Kediri. Saluran yang dipenuhi kotoran membuat air tidak bisa mengalir dengan lancar.
Akibatnya, air harus antre untuk masuk ke dalam drainase hingga memunculkan fenomena banjir 30 menitan.
Genangan setinggi 40-50 sentimeter di sejumlah jalan protokol di Kota Kediri menjadi pemandangan selama bertahun-tahun.
Air baru surut sekitar 30 menit setelah hujan berhenti. Hal itu pula yang membuat namanya menjadi banjir 30 menitan.
Tidak hanya saluran drainase yang tersumbat sampah, sungai-sungai Kota Kediri juga bernasib sama.
Sikap abai masyarakat dalam membuang sampah ke sungai menjadi salah satu pemicu banjir yang selalu terjadi di musim hujan.
Baca Juga: Sungai Brantas Hantam Warung Kopi di Manisrenggo Kota Kediri
“Biasanya orang lewat (di atas jembatan, Red) langsung lempar sampah ke sungai. Karena nggak kenal, ya nggak bisa ngomongi,” sambung Siti Aminah, 70, warga Kelurahan Bujel, Mojoroto.
Masih rendahnya kesadaran dan kepedulian masyarakat tentang lingkungan juga menjadi sorotan aktivis lingkungan hidup.
Ketua Yayasan Hijau Daun Mandiri Endang Pertiwi mengatakan, banjir di kawasan perkotaan tidak bisa dilepaskan dari faktor perilaku masyarakat.
“Seringnya saat di depan rumahnya ada got terbuka, waktu nyapu sampahnya dibuang ke got. Atau waktu gotnya kering di musim kemarau, dijadikan tempat pembuangan sampah. Itu sudah menjadi habit masyarakat kita,” ujarnya.
Dia pun mengenang beberapa tahun lalu saat terjadi banjir yang tak kunjung surut. Ketika saluran drainasenya dibuka, ada kasur yang menyumbat saluran.
Faktor pendorong masyarakat membuang sampah ke saluran air juga tak lepas dari ketersedian lahan terbuka.
Aktivis lingkungan hidup itu menyoroti masih banyaknya masyarakat yang membuang dan membakar sampah di saluran air saat kering di musim kemarau.
Perilaku itu masih dilakukan meski di musim hujan sekalipun.
“Malah lihat airnya mengalir, sampah dari rumah sengaja dibuang ke got. Makanya di salah satu titik got yang ada jaringnya, di situ pasti sampahnya luar biasa,” bebernya.
Oleh sebab itu, menurutnya memperbanyak daerah resapan air bisa menjadi salah satu solusi.
Dengan begitu, air hujan tidak seluruhnya diarahkan ke saluran air, untuk kemudian dibuang ke sungai yang lebih besar. Melainkan, Sebagian bisa terserap ke tanah.
Selain itu, membangun kesadaran untuk beralih ke konsep mengurangi sampah juga dibutuhkan.
Di wilayah perkotaan misalnya, kampanye tentang membuang sampah pada tempatnya sudah usang.
Melainkan, harus mulai membatasi sampah untuk mengurangi timbulan sampah tiap harinya.
“Kita sudah masuk di tahap perilaku mengolah sampah, bukan lagi hanya membuang sampah pada tempatnya. Konsep di Kota Kediri juga mengurangi, membatasi sampah. Ada perwalinya juga (pembatasan plastik sekali pakai, Red),” tandas perempuan asal Kelurahan Bujel, Mojoroto itu.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah